Meski 5G Sudah Ada, Tapi Sinyal Belum Merata

AKURAT.CO Teknologi 5G kini sudah hadir di banyak negara, termasuk Indonesia. Smartphone yang mendukung jaringan 5G juga semakin murah dan mudah ditemukan di pasaran.
Meski begitu, pengalaman menggunakan 5G belum selalu sesuai ekspektasi. Banyak pengguna masih belum merasakan koneksi yang benar-benar stabil dan cepat setiap saat.
Di sejumlah wilayah, sinyal 5G masih terbatas di area tertentu saja. Pengguna bahkan sering kembali terhubung ke jaringan 4G ketika berpindah lokasi.
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Perkembangan 5G global berjalan lebih lambat dari perkiraan karena biaya pembangunan jaringan yang mahal dan cakupan sinyal yang belum merata, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Senin (18/5/2026).
Salah satu tantangan terbesar 5G ada pada teknologi jaringannya sendiri. Berbeda dengan 4G, 5G menggunakan frekuensi lebih tinggi untuk menghadirkan internet yang lebih cepat.
Namun frekuensi tinggi itu memiliki jangkauan yang lebih pendek. Sinyalnya juga lebih mudah terhalang gedung, tembok, hingga pepohonan.
Dikutip dari Lifewire, jaringan 5G membutuhkan lebih banyak 'small cells' atau pemancar kecil dibanding 4G. Tujuannya agar koneksi tetap stabil di berbagai lokasi.
Baca Juga: Mengapa 5G Belum Menjadi Game Changer di Indonesia?
Kondisi ini membuat pembangunan jaringan 5G menjadi jauh lebih mahal. Operator telekomunikasi harus menambah lebih banyak infrastruktur untuk memperluas cakupan sinyal.
Kabarnya, operator telekomunikasi kini lebih berhati-hati memperluas jaringan 5G. Penyebabnya, keuntungan dari layanan 5G dinilai belum maksimal.
Dikutip dari Euronews, pengembangan 5G standalone di Eropa masih tertinggal dibanding Amerika Serikat dan Asia. Salah satu penyebabnya adalah investasi pembangunan jaringan yang mulai melambat dalam beberapa tahun terakhir.
Akibatnya, operator lebih memprioritaskan pembangunan jaringan di kota besar. Area dengan trafik internet tinggi juga menjadi fokus utama pengembangan 5G saat ini.
Situasi serupa juga terjadi di Indonesia. Jaringan 5G memang sudah tersedia dari beberapa operator besar, tetapi cakupannya masih terbatas di area tertentu.
Saat ini, sinyal 5G lebih banyak tersedia di pusat bisnis, bandara dan kawasan perkotaan. Tantangan geografis Indonesia juga membuat pembangunan jaringan menjadi lebih kompleks dan mahal.
Di sisi lain, sebagian besar aktivitas digital masyarakat masih bisa berjalan lancar di jaringan 4G. Karena itu, banyak pengguna belum merasa perlu beralih sepenuhnya ke layanan 5G.
Meski perkembangannya lebih lambat dari ekspektasi awal, 5G tetap dianggap penting bagi masa depan industri digital. Teknologi ini diproyeksikan mendukung kecerdasan buatan (AI), cloud gaming, hingga kendaraan terhubung.
Namun saat ini, manfaat 5G belum dirasakan merata oleh semua pengguna. Teknologinya memang sudah tersedia, tetapi kualitas jaringan masih berbeda-beda di tiap wilayah.
Karena itu, 5G belum bisa disebut gagal. Hanya saja, perkembangan menuju teknologi massal berjalan lebih lambat dari yang dulu dijanjikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat







