Uni Eropa Siapkan Langkah Tegas Hadapi Dominasi Teknolopgi Cina

AKURAT.CO Uni Eropa berencana memberlakukan aturan baru bagi perusahaan Cina yang beroperasi di wilayahnya. Kebijakan ini mewajibkan CIna menyerahkan sebagian teknologi dan kekayaan intelektual kepada mitra Eropa.
Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam sikap Eropa terhadap perdagangan dan transfer teknologi. Kebijakan itu juga dianggap ironis karena sebelumnya Barat menuduh Cina melakukan hal serupa terhadap perusahaan asing.
Aturan baru tersebut diperkirakan berlaku untuk sektor digital, energi hijau dan manufaktur utama seperti mobil listrik, turbin angin, serta baterai. Selain itu, perusahaan Cina juga mungkin diwajibkan memenuhi persentase penggunaan barang atau tenaga kerja dari Uni Eropa.
Upaya agresif ini muncul setelah pemerintah Belanda menyita Nexperia, produsen semikonduktor yang sepenuhnya dimiliki oleh Cina. Penyitaan itu dilakukan dengan alasan keamanan ekonomi dan kebutuhan menjaga pasokan chip di Eropa.
Tindakan Belanda tersebut memicu kemarahan Beijing yang menilai keputusan itu tidak adil. Apalagi, Eropa sebelumnya juga menolak menjual peralatan pembuatan chip canggih dari ASML kepada perusahaan Cina karena tekanan Amerika Serikat.
Dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (18/10/2025), situasi ini menandai awal dari perang dagang dan teknologi baru antara Eropa dan Cina. Uni Eropa tampak semakin siap menghadapi konfrontasi ekonomi demi memperkuat kemandirian industrinya.
Eropa kini tertinggal dalam persaingan teknologi chip dan kecerdasan buatan dibandingkan Amerika Serikat dan Cina. Melalui Undang-Undang Chip Eropa tahun 2023, Brussels telah mengalokasikan dana miliaran euro untuk mendukung riset dan produksi lokal.
Di sisi lain, pasar domestik Cina kini semakin padat dan kompetitif, membuat margin keuntungan perusahaan teknologi menurun. Kondisi ini mendorong banyak perusahaan Tiongkok untuk mencari pasar baru di luar negeri, termasuk Eropa.
Namun, Uni Eropa tidak ingin menjadi pasar terbuka tanpa syarat bagi ekspansi Cina. Brussels kini menerapkan pendekatan selektif dengan menuntut imbal balik berupa transfer teknologi atau kerja sama yang menguntungkan pihak lokal.
Meski kebijakan ini tampak tegas, Eropa memiliki batas dalam memainkan tekanan ekonomi terhadap Cina. Negara seperti Jerman masih sangat bergantung pada ekspor ke pasar Tiongkok, yang menjadi mitra dagang utama bagi banyak sektor industri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang






