Akurat

Musim Kemarau 2025 Mundur dan Lebih Singkat, BMKG : Perubahan Pola Iklim Perlu Disikapi dengan Bijak

Leo Farhan | 25 Juni 2025, 21:46 WIB
Musim Kemarau 2025 Mundur dan Lebih Singkat, BMKG : Perubahan Pola Iklim Perlu Disikapi dengan Bijak

AKURAT.CO Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa hingga awal Juni 2025, baru sekitar 19 persen zona musim di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau.

Artinya, sebagian besar wilayah di tanah air masih berada dalam kondisi musim hujan, meskipun secara klimatologis musim kemarau seharusnya sudah mulai terjadi di sejumlah wilayah.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa tertundanya awal musim kemarau pada tahun ini dipengaruhi oleh curah hujan yang lebih tinggi dari normal selama periode April hingga Mei 2025, periode yang semestinya menjadi masa transisi menuju musim kemarau.

BMKG sebelumnya telah memperkirakan kondisi ini dalam prakiraan iklim bulanan yang dirilis pada Maret 2025.

Dalam prakiraan tersebut, lembaga ini memprediksi adanya peningkatan curah hujan di wilayah selatan Indonesia seperti Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), sehingga wilayah-wilayah tersebut tertunda memasuki musim kemarau.

“Prediksi musim dan bulanan yang kami rilis sejak Maret lalu menunjukkan adanya anomali curah hujan yang diatas normal di wilayah-wilayah tersebut, dan ini menjadi dasar utama dalam memprediksi mundurnya musim kemarau tahun ini,” ungkap Dwikorita.

Berdasarkan analisis terbaru BMKG terhadap curah hujan pada Dasarian I (sepuluh hari pertama) Juni 2025, tren pergeseran menuju musim kemarau mulai terlihat.

Sebanyak 72 persen wilayah berada dalam kondisi curah hujan Normal, 23 persen dalam kategori Bawah Normal, dan hanya sekitar 5 persen wilayah yang masih mengalami curah hujan di atas normal.

Meskipun tanda-tanda musim kemarau mulai muncul di banyak wilayah, perubahan ini belum terjadi secara merata.

Dwikorita menyebutkan bahwa wilayah Sumatera dan Kalimantan justru lebih dahulu mengalami penurunan curah hujan selama beberapa dasarian terakhir, menjadikan peralihan ke musim kemarau di kawasan ini lebih cepat dibandingkan dengan wilayah selatan Indonesia.

Namun demikian, kata dia, pada bulan April hingga Mei lalu, beberapa wilayah di Indonesia bagian selatan memang mengalami kondisi curah hujan Atas Normal, termasuk Sumatera Selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian kecil Kalimantan, sebagian wilayah Sulawesi, dan Papua bagian selatan.

Pola ini menunjukkan bahwa transisi musim kemarau tidak berlangsung seragam di seluruh Indonesia.

BMKG juga mengungkapkan bahwa berdasarkan prakiraan cuaca bulanan terbaru, curah hujan dengan kategori Atas Normal masih berpotensi terjadi di sebagian wilayah hingga Oktober 2025.

Hal ini memperkuat proyeksi bahwa musim kemarau tahun ini akan memiliki durasi yang lebih singkat dari biasanya, dengan karakteristik curah hujan yang tetap tinggi.

Dwikorita menutup keterangannya dengan menekankan bahwa musim kemarau kali ini menjadi ajang penting untuk menguji ketangguhan bangsa dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“BMKG akan terus berkomitmen mendampingi masyarakat dan pemangku kepentingan dalam membaca perubahan cuaca dan iklim dengan lebih presisi, agar setiap langkah ke depan bisa lebih bijak dan berbasis data,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.