Optimalkan Potensi Bioenergi, Indonesia Perlu Terobosan Cepat Untuk Capai Net Zero Emission 2060

AKURAT.CO - Indonesia berupaya keras mencapai target Net Zero Emission pada 2060 dengan mengoptimalkan pengembangan bioenergi.
Dalam webinar 'Potensi dan Tantangan Pengembangan Bioenergi dalam Kontribusi pada Capaian Target Net Zero Emission 2060' pada 9 November 2023, terungkap bahwa pemanfaatan potensi bioenergi di Indonesia masih belum maksimal.
"Pengembangan bioenergi merupakan salah satu strategi penting Pemerintah dalam transisi energi guna memenuhi komitmen Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara global," ujar Iwan Bento Wijaya selaku Ketua Dewan PP KMR, dalam keterangan tertulis yang diterima Akurat.co, Rabu (15/11/2023).
"Bioenergi kita menghasilkan Bahan Bakar Nabati (BBN)/biofuel seperti biodiesel dan bioetanol, biogas, serta biomassa padat. Namun dari semua itu, kita baru memanfaatkan 0,3% potensi yang ada," ujar Akhmad Hanan selaku peneliti dari Purnomo Yusgiantoro Center (PYC).
Baca Juga: Alasan Pemerintah Ngotot Mesra dengan Jepang Soal Pemenuhan Kebutuhan Pasar Bioenergi
Akhmad dari PYC menyoroti pentingnya regulasi terintegrasi dan dukungan fiskal untuk pengembangan bioenergi. Ia menekankan perlunya insentif pajak, subsidi dan kerjasama lintas sektor.
Biodiesel Unggul, Tapi Tantangan Tetap Ada
Dari total energi baru terbarukan (EBT) 14,11%, biodiesel menjadi kontributor utama. Namun, capaian ini harus ditingkatkan agar mencapai target 23% pada 2025.
Dwi Setyaningsih dari SBRC IPB menunjukkan bahwa biodiesel dari minyak sawit berhasil, tetapi kendala biaya produksi dan keterbatasan bahan baku masih menjadi tantangan.
Sementara biodiesel unggul, pengembangan bioetanol, biomassa co-firing dan biogas masih jauh dari harapan. Penggunaan bioetanol belum berkembang karena keterbatasan produksi dan ketersediaan bahan baku.
Pengembangan bioenergi membutuhkan dukungan lebih lanjut dari pemerintah, insentif pajak dan kerjasama lintas sektor. Putri Khoirunnisa dari KNPI mewakili generasi muda yang berkomitmen untuk menggaungkan pentingnya EBT.
Menutup webinar, Faisal Yusuf dari BENIH berharap diskusi ini memicu kolaborasi dan inovasi untuk mencapai tujuan Net Zero Emission 2060.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T


