Fernando Emas: Aktor Intelektual Penyerangan Andrie Yunus Pecundang Anti-Demokrasi

AKURAT.CO Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, mesti diusut secara tuntas dan terang benderang tanpa ada intervensi dari pihak manapun sesuai harapan publik.
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, mengatakan, sangat kuat dugaan dan kecurigaan masyarakat bahwa penyerangan terhadap Andrie Yunus karena aktivitasnya memperjuangkan supremasi sipil di Indonesia.
Dugaan Fernando, gerak-gerik aktivis muda kelahiran 1998 itu sepertinya mengusik kenyamanan salah satu institusi negara.
"Mungkin mereka sudah sangat menikmati jabatan di ranah sipil yang dirampas secara konstitusi. Saya meyakini siapapun yang menjadi aktor intelektual dan para pelaku penyiraman Andrie Yunus adalah para pecundang dan anti demokrasi karena tidak mau dikritik dan dievaluasi," kata Fernando dalam siaran pers tertulis, Rabu (1/4/2026).
Dia tegaskan bahwa institusi yang dibiayai negara dari pajak rakyat seharusnya bisa menerima kritik dari siapa pun dan sekeras apa pun.
"Kalau tidak mau dikritik dan dievaluasi, sebaiknya jadi Ormas (Organisasi Masyarakat) saja," ucap Fernando.
Institusi negara, tambahnya, tidak perlu takut terhadap kritik publik jika bekerja benar dan berjalan sesuai dengan konstitusi.
Baca Juga: Setelah Trump Pidato akan Akhiri Perang, Iran Serang Bandara Kuwait dan Kapal Tanker di Qatar
"Seharusnya mereka sadar bahwa anggaran yang mereka nikmati berasal dari pajak rakyat sehingga seharusnya rakyat dijadikan kawan dalam membangun Indonesia, bukan lawan," ujarnya.
Fernando berharap Presiden Prabowo Subianto tetap konsisten dalam menegakkan hukum, khususnya dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, meskipun harus menyingkirkan orang-orang di lingkarannya atau membersihkan institusi yang pernah membesarkan namanya.
Sebelumnya, dalam sesi tanya jawab dengan sejumlah pakar dan perwakilan pers di Hambalang Bogor pada 17 Maret 2026, Presiden Prabowo sudah menyatakan komitmennya untuk memburu pelaku penyerangan terhadap Andrie Yunus sampai ke aktor intelektualnya.
Dia berjanji tidak akan melindungi para pelaku meski mereka berasal dari institusi TNI. Memang, dari penyelidikan yang dilakukan Puspom TNI, para pelaku lapangan berjumlah 4 orang adalah anggota Badan Intelijen Strategis (Bais TNI).
"Ini terorisme, iya kan? Ini tindakan biadab. Harus kita kejar, harus kita usut siapa yang suruh, siapa yang bayar," kata Prabowo saat itu.
Kabar terbaru dari Kepala Pusat Penerangan TNI menyebutkan bahwa keempat pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan telah menjalani penahanan di instalasi tahanan militer (maximum security) Pomdam Jaya Guntur sejak tanggal 18 Maret 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









