Cara Tabayyun Digital saat Menemukan Konten yang Tidak Jelas Sumbernya

AKURAT.CO Di era media sosial, sebuah informasi bisa berpindah dari satu ponsel ke ponsel lain hanya dalam hitungan menit. Sebuah video pendek, potongan pernyataan, tangkapan layar, atau judul berita yang provokatif dapat menjadi viral sebelum orang sempat bertanya: siapa yang pertama kali menyebarkannya?
Situasi seperti ini membuat tabayyun menjadi semakin penting. Dalam Islam, menerima informasi tidak cukup hanya dengan melihat banyaknya orang yang membagikannya. Kebenaran sebuah informasi harus diperiksa agar seseorang tidak ikut menyebarkan sesuatu yang ternyata keliru.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini sangat relevan dengan kebiasaan bermedia sosial. Sebuah berita yang belum jelas sumbernya tidak seharusnya langsung dipercaya, apalagi diteruskan kepada orang lain.
Lalu, bagaimana cara melakukan tabayyun digital?
Pertama, periksa sumber awal. Jangan hanya melihat akun yang membagikan informasi terakhir. Cari tahu siapa yang pertama kali mempublikasikan konten tersebut. Jika sebuah tangkapan layar tidak mencantumkan sumber yang jelas, sikap paling aman adalah menunda membagikannya.
Baca Juga: Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Disebut Memeluk Islam di Tengah Tekanan Kehidupan Modern
Kedua, baca informasi secara utuh. Banyak kesalahpahaman muncul karena orang hanya membaca judul atau menonton potongan video beberapa detik. Pernyataan yang dipotong dari konteks dapat menghasilkan makna yang berbeda dari pernyataan aslinya.
Ketiga, bandingkan dengan sumber lain. Jika informasi tersebut berkaitan dengan peristiwa penting, carilah pemberitaan dari media yang kredibel atau pernyataan resmi dari lembaga yang berkaitan langsung dengan peristiwa tersebut.
Keempat, periksa tanggal dan konteksnya. Konten lama sering kali kembali viral dengan keterangan seolah-olah merupakan peristiwa baru. Foto atau video dari kejadian bertahun-tahun lalu juga dapat digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang berbeda.
Kelima, hati-hati dengan judul yang sengaja memancing emosi. Kalimat seperti “ternyata selama ini...”, “media tidak mau memberitakan”, atau “sebarkan sebelum dihapus” seharusnya membuat kita semakin berhati-hati, bukan semakin tergesa-gesa membagikan.
Keenam, jika tidak mampu memastikan kebenarannya, tidak perlu ikut menyebarkan. Diam dalam situasi tertentu justru lebih baik daripada menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang salah.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan tentang kebiasaan menyampaikan semua informasi yang diterima:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia menceritakan semua yang didengarnya.” (HR. Muslim).
Hadis ini bukan berarti setiap informasi yang kita sampaikan pasti merupakan kebohongan. Pesannya adalah bahwa orang yang menyampaikan semua informasi tanpa memeriksa kebenarannya berpotensi menyebarkan kebohongan tanpa menyadarinya.
Di media sosial, persoalan tersebut menjadi semakin serius. Satu kali menekan tombol “bagikan” dapat membuat informasi menjangkau ratusan bahkan ribuan orang. Jika informasi itu benar, kita mungkin membantu menyebarkan manfaat. Tetapi jika ternyata palsu, kita juga ikut memperluas dampaknya.
Karena itu, tabayyun digital dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: berhenti sejenak sebelum membagikan, periksa sumber, cek konteks, bandingkan informasi, dan pastikan kebenarannya.
Baca Juga: Yuk Cek Lagi! Ini Cara Mudah Dapat Sertifikat Halal Gratis Sebelum Batas Waktu 2026
Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak menjadi manusia yang paling cepat menyebarkan berita, tetapi menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang disampaikannya.
Di zaman ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya, tabayyun bukan sekadar ajaran agama. Ia menjadi etika dasar agar jari kita tidak lebih cepat daripada akal dan hati nurani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat






