Akurat Logo

Cara Menjauhkan Anak dari Hubungan Sesama Jenis dalam Islam

Lufaefi | 22 September 2026, 08:00 WIB
Cara Menjauhkan Anak dari Hubungan Sesama Jenis dalam Islam
Bendera LGBT - Istimewa

AKURAT.CO Mendidik anak di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola pergaulan menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Anak semakin mudah mengenal berbagai bentuk relasi melalui media sosial, lingkungan pertemanan, maupun konten digital.

Dalam perspektif Islam, pendidikan anak tidak cukup dilakukan dengan memberikan larangan. Orang tua juga perlu membangun kedekatan emosional, memberikan pemahaman agama secara bertahap, serta menciptakan lingkungan yang membuat anak nyaman bercerita tentang persoalan yang sedang dihadapinya.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga diri dan keluarga dari perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Allah SWT berfirman dalam QS At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat tersebut menjadi salah satu landasan penting mengenai tanggung jawab orang tua dalam membimbing anggota keluarga. Pendidikan agama bukan sekadar menyampaikan hukum halal dan haram, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan kemampuan anak dalam mengambil keputusan.

Lalu, bagaimana cara orang tua menjauhkan anak dari hubungan sesama jenis yang tidak sesuai dengan nilai Islam?

  1. Bangun komunikasi yang dekat sejak dini

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membangun hubungan yang hangat dengan anak. Anak yang merasa didengarkan akan lebih mudah menceritakan persoalan yang dialaminya, termasuk persoalan pertemanan, perasaan, maupun interaksi di media sosial.

Jangan menjadikan rumah sebagai tempat yang penuh ancaman dan penghakiman. Ketika anak takut dimarahi, ia justru berpotensi menyembunyikan masalah yang sedang dihadapinya.

Orang tua dapat memulai percakapan dengan pertanyaan sederhana tentang teman-temannya, aktivitas di sekolah, penggunaan media sosial, dan hal-hal yang sedang menjadi perhatian anak.

  1. Ajarkan nilai agama tentang hubungan laki-laki dan perempuan

Pendidikan seksual dalam Islam sebaiknya diberikan secara bertahap sesuai usia anak. Anak perlu memahami konsep aurat, batas pergaulan, kehormatan tubuh, privasi, serta tanggung jawab dalam hubungan dengan orang lain.

Baca Juga: Isi Pidato Lengkap KH Hasan Abdullah Sahal di Depan Prabowo yang Viral

Ketika anak mulai memasuki usia remaja, orang tua dapat menjelaskan bahwa Islam memberikan aturan mengenai hubungan seksual dan pernikahan.

Dalam Al-Qur'an, kisah kaum Nabi Luth AS menjadi salah satu rujukan utama dalam pembahasan mengenai perilaku seksual sesama laki-laki. Allah SWT berfirman:

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

“Pantaskah kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

(QS Al-A'raf: 81)

Ayat tersebut dalam tafsir dan fikih Islam menjadi salah satu dasar larangan hubungan seksual sesama laki-laki.

Namun, orang tua perlu menyampaikannya dengan bahasa yang sesuai usia anak. Tujuannya bukan menanamkan kebencian kepada orang tertentu, melainkan memberikan pemahaman mengenai nilai dan batas perilaku yang diyakini dalam agama.

  1. Bedakan antara perasaan dan tindakan

Ini merupakan bagian yang penting dalam pendidikan anak.

Anak dapat mengalami berbagai perasaan, ketertarikan, kebingungan, atau kedekatan emosional yang belum tentu langsung menunjukkan pilihan perilaku tertentu. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label kepada anak.

Dalam pendidikan Islam, yang perlu dibimbing adalah perilaku dan pilihan hidup anak. Ketika anak mengungkapkan perasaan yang membuatnya bingung, orang tua sebaiknya merespons dengan tenang dan mengajak anak memahami persoalan tersebut.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi