Nama Kiai Said Aqil Kembali Menguat di Bursa Rais Aam PBNU, Ini Jejak Panjangnya

AKURAT.CO Di tengah menghangatnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), nama Kiai Said Aqil Siroj kembali mencuri perhatian. Mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu disebut semakin menguat di kalangan muktamirin sebagai salah satu sosok yang digadang-gadang menduduki posisi Rais Aam PBNU.
Dinamika tersebut muncul bersamaan dengan mengerucutnya bursa Ketua Umum PBNU. Di kalangan muktamirin dan Nahdliyin, nama Gus Yahya sebagai petahana dan Gus Kikin sebagai alternatif baru menjadi dua figur yang banyak diperbincangkan.
Sementara untuk posisi Rais Aam, mekanisme yang digunakan berbeda. Pemilihan dilakukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Pengurus wilayah dan pengurus cabang mengusulkan sembilan nama kiai yang dinilai layak menjadi anggota AHWA, kemudian dukungan tersebut ditabulasi.
Dalam dinamika itulah nama Kiai Said Aqil kembali muncul. Bukan tanpa alasan. Kiai Said dikenal memiliki rekam jejak panjang di NU, baik sebagai ulama, intelektual pesantren maupun organisator. Karya-karyanya juga banyak menjadi rujukan dalam kajian Islam Nusantara.
Baca Juga: Pendukung Gus Yusuf Chudlori Ricuh, Gus Yahya Janjikan Posisi untuknya Jika Terpilih Lagi
Berangkat dari Pesantren
Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, M.A. lahir di Kempek, Cirebon, pada 3 Juli 1953. Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat di Ponpes KHAS Kempek Cirebon yang merupakan besutan ayahnya, KH Aqil Siroj.
Pendidikan keagamaannya ditempuh antara lain di Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Setelah itu, perjalanan intelektualnya berlanjut ke Arab Saudi.
Kiai Said menempuh pendidikan tinggi di Universitas King Abdul Aziz dan Universitas Ummul Qura, Makkah. Pada 1994, ia meraih gelar doktor dalam bidang akidah dan filsafat Islam dengan predikat cum laude.
Latar belakang tersebut ikut membentuk karakter pemikiran Kiai Said yang berusaha mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan persoalan Islam dan kebangsaan kontemporer.
Dari Wakil Katib hingga Memimpin PBNU
Perjalanan Kiai Said di NU juga tidak berlangsung singkat.
Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Katib Aam hingga kemudian menjadi bagian dari jajaran Rais Syuriyah. Karier organisasinya mencapai puncak ketika ia terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pada Muktamar ke-32 NU di Makassar pada 2010.
Lima tahun berselang, amanah tersebut kembali diberikan kepadanya melalui Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015. Kiai Said kemudian memimpin PBNU selama dua periode hingga Desember 2021.
Baca Juga: Kiai Adnan Sebut Said Aqil Figur Konsolidator, Dinilai Layak Jadi Rais Aam PBNU
Selama kepemimpinannya, salah satu gagasan yang paling menonjol adalah pengarusutamaan Islam Nusantara sebagai corak Islam yang berakar pada tradisi pesantren, namun tetap terbuka berdialog dengan perkembangan zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 6Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo









