Jelang Muktamar NU, Belum Ada Kandidat Penuhi Ambang Dukungan Muktamar ke-35

AKURAT.CO Peta persaingan menuju pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU dinilai masih sangat dinamis. Hingga pertengahan Juli 2026, belum ada satu pun kandidat yang dipastikan memenuhi syarat dukungan minimal untuk maju sebagai calon ketua umum.
Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU Muhammad Mukri mengatakan menghangatnya pembicaraan mengenai sejumlah tokoh yang berpotensi maju merupakan dinamika yang wajar dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Menurutnya, kondisi tersebut justru menunjukkan proses demokrasi internal organisasi berjalan dengan baik.
"Kalau kemudian agak hangat, ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, itu hal yang biasa. Itu menunjukkan adanya demokrasi dan penyampaian aspirasi di lingkungan NU," kata Mukri, Sabtu (18/7/2026).
Baca Juga: Cak Imin Jelang Muktamar PBNU: Yang Main-main di NU, Keluarkan Saja
Sejumlah nama yang mulai disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Menteri Agama Nasaruddin Umar, Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif, Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), hingga KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).
Meski demikian, Mukri menegaskan belum ada figur yang mendominasi dukungan dari peserta muktamar.
"Kalau sekarang dibilang sudah mengerucut, belum. Nanti akan terlihat ketika muktamar berlangsung," ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU, setiap bakal calon harus memperoleh sedikitnya 99 dukungan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) maupun Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) agar dapat ditetapkan sebagai calon resmi.
Menurut Mukri, apabila terdapat kandidat yang belum memenuhi jumlah dukungan tersebut, terbuka kemungkinan terjadinya konsolidasi atau penggabungan dukungan menjelang proses pemilihan.
"Kalau ternyata kurang dari jumlah itu tentu belum memenuhi syarat menjadi calon. Nanti bisa saja terjadi koalisi atau konsolidasi dukungan," katanya.
Mukri menilai peta politik internal NU masih akan terus bergerak hingga pelaksanaan Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Selain mempersiapkan proses pemilihan kepengurusan baru, panitia juga terus mematangkan materi persidangan yang akan menjadi agenda utama muktamar.
"Kalau masalah lokasi tidak ada persoalan. Sekarang fokus kami mempersiapkan materi-materi muktamar," ujar Mukri.
Muktamar ke-35 NU akan menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang menetapkan kepengurusan PBNU periode 2026–2031 sekaligus membahas berbagai keputusan strategis mengenai arah kebijakan dan pengembangan organisasi untuk lima tahun mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







