Jelang Muktamar, Gus Rozin Serukan NU Menjaga Ruang Damai dan Kemandirian Organisasi

AKURAT.CO Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama (NU) menjadikan momentum menjelang Muktamar ke-35 sebagai ruang konsolidasi yang mengedepankan kedamaian, kejernihan berpikir, dan kemandirian organisasi.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV PWNU Jawa Tengah yang digelar di UIN Sunan Kudus, Sabtu (27/6/2026). Menurutnya, forum keilmuan tersebut memiliki makna lebih luas karena berlangsung pada fase penting menjelang agenda tertinggi organisasi NU.
Dalam sambutannya, Gus Rozin menekankan bahwa atmosfer intelektual dan dialogis yang hadir dalam MIP perlu menjadi inspirasi bagi pelaksanaan Muktamar NU mendatang.
“Muktamar yang akan datang adalah muktamar damai sebagaimana muktamar pagi ini,” ujarnya.
Ia menilai, NU perlu terus menjaga independensinya sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang memiliki kebebasan menentukan arah gerak secara mandiri tanpa tekanan kepentingan jangka pendek maupun polarisasi internal.
Baca Juga: Alasan Lirboyo Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU
Gus Rozin juga mengingat kembali pesan Presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah disampaikan dalam forum muktamar. Menurutnya, kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh menjadi ukuran keberhasilan organisasi.
Pesan tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa kekuatan NU selama ini justru lahir dari kemampuan menjaga jarak yang sehat dengan pusat kekuasaan sekaligus tetap hadir untuk kepentingan umat.
Selain menyoroti dimensi organisasi, ia mendorong warga NU untuk memperkuat tradisi keilmuan sebagai fondasi menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan sains modern tidak seharusnya dipertentangkan dengan karakter keagamaan yang selama ini menjadi identitas NU.
"Tidak perlu mempertentangkan jam'iyyah ijtima'iyyah dengan kemajuan-kemajuan modern,” katanya.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar menjelang Muktamar bukan sekadar soal kompetisi atau perbedaan pandangan, melainkan bagaimana seluruh unsur organisasi tetap mampu menjaga nalar yang sehat dan hati yang bersih.
“(Yang perlu kita menangkan) yaitu pikiran dan hati yang jernih ketika berbicara tentang NU,” pungkasnya.
MIP IV PWNU Jawa Tengah sendiri menjadi salah satu ruang pertemuan gagasan yang mempertemukan tradisi intelektual NU dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer. Forum tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi warga NU dalam merespons tantangan sosial, pendidikan, dan peradaban di masa mendatang sekaligus menjaga suasana organisasi tetap kondusif menjelang Muktamar ke-35.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 4Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang







