Akurat

Sejarah Hari Santri Nasional, Bermula dari Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Oktober 2025, 08:27 WIB
Sejarah Hari Santri Nasional, Bermula dari Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari

AKURAT.CO Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, sebuah momentum bersejarah untuk mengenang perjuangan besar para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghargaan negara terhadap peran pesantren dan kaum santri dalam sejarah perjuangan bangsa.

Penetapan Hari Santri secara resmi dilakukan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

Sejak saat itu, setiap 22 Oktober dijadikan momen nasional untuk meneguhkan semangat keislaman, keindonesiaan, dan kebangsaan yang diwariskan para ulama.

Usulan peringatan Hari Santri sendiri berawal dari Pondok Pesantren Babussalam, Malang, Jawa Timur, pada 27 Juni 2014. Saat itu, Jokowi yang masih menjadi calon presiden berkunjung ke pesantren tersebut dan menerima aspirasi untuk menjadikan tanggal tertentu sebagai Hari Santri.

Baca Juga: Selangkah Lagi, Ditjen Pesantren Akan Diresmikan Jadi Kado Hari Santri Nasional 2025

Awalnya, Jokowi berencana menetapkan 1 Muharram. Namun, usulan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kemudian mengarah pada tanggal 22 Oktober, dengan alasan historis yang kuat.

Tanggal 22 Oktober dipilih karena bertepatan dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945.

Resolusi tersebut merupakan fatwa monumental yang menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya santri dan ulama pesantren, untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya penjajahan kembali oleh Belanda yang saat itu membonceng pasukan Sekutu.

Sejarah mencatat, pada 21 Oktober 1945, para ulama dari Jawa dan Madura berkumpul di Bubutan, Surabaya, untuk bermusyawarah. Pertemuan itu melahirkan keputusan penting yang diumumkan pada 22 Oktober 1945 — dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Isi resolusi tersebut terdiri dari dua poin utama. Pertama, mendesak pemerintah Indonesia agar bersikap tegas terhadap ancaman penjajahan. Kedua, menyerukan perjuangan sabilillah bagi seluruh umat Islam untuk mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga agama.

Fatwa KH Hasyim Asy’ari itu tidak hanya menggugah semangat kaum santri dan ulama, tetapi juga membangkitkan gelombang perjuangan rakyat di berbagai daerah. Resolusi Jihad menjadi pemicu semangat perlawanan terhadap pasukan Sekutu dan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia pasca-Proklamasi.

Puncak dari semangat itu adalah peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya — yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Dengan demikian, Hari Santri memiliki keterkaitan langsung dengan lahirnya semangat perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Doa Kegiatan Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2025

Hari Santri bukan hanya simbol sejarah, melainkan juga penegasan identitas kebangsaan santri Indonesia. Nilai-nilai perjuangan, disiplin, keikhlasan, dan cinta tanah air yang diwariskan para ulama menjadi fondasi moral yang terus relevan di era modern ini.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2025, generasi muda diharapkan mampu meneruskan semangat jihad intelektual — bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan ilmu, karya, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari tetap hidup, bergema dalam bentuk perjuangan moral dan spiritual untuk menjaga Indonesia sebagai rumah besar bersama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.