Perbedaan Maulid Diba’i dan Al-Barzanji, Mana yang Lebih Recommended untuk Perayaan Maulid Nabi Muhammad?

AKURAT.CO Setiap bulan Rabi’ul Awal, umat Islam di berbagai penjuru dunia merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan beragam tradisi. Di Indonesia, dua kitab yang paling sering dibacakan dalam acara Maulid adalah Maulid Diba’i dan Al-Barzanji.
Kedua teks ini memiliki sejarah panjang, gaya penulisan berbeda, dan corak budaya yang khas. Lalu, apa perbedaan utama keduanya? Dan mana yang lebih rekomend untuk digunakan dalam perayaan Maulid?
Asal-usul Kitab Diba’i dan Al-Barzanji
Kitab Maulid Diba’i ditulis oleh Imam Abdurrahman ad-Diba’i (w. 944 H/1537 M), seorang ahli hadis besar asal Yaman. Teks ini berisi kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW, silsilah keturunan, hingga momen-momen penting dalam kehidupan beliau. Bahasanya sederhana, puitis, dan mudah dilagukan, sehingga cepat diterima oleh masyarakat muslim, termasuk di Nusantara.
Sementara itu, Kitab Al-Barzanji ditulis oleh Syekh Ja’far al-Barzanji (w. 1177 H/1763 M), seorang ulama keturunan Kurdi yang bermukim di Madinah.
Teks ini juga mengisahkan kelahiran dan perjalanan hidup Rasulullah, tetapi menggunakan gaya bahasa sastra Arab yang lebih indah, penuh metafora, dan bernuansa doa serta pujian. Al-Barzanji bahkan dianggap sebagai karya sastra klasik yang memiliki nilai literer tinggi.
Baca Juga: Libur Panjang September 2025, Ada Libur Maulid Nabi Muhammad SAW
Isi dan Struktur Bacaan
Maulid Diba’i cenderung lebih naratif, dengan alur cerita yang runtut dari silsilah Nabi hingga peristiwa kelahirannya. Banyak doa dan shalawat yang diselipkan, menjadikannya lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Sedangkan Al-Barzanji lebih padat dengan syair pujian (qasidah), doa, dan ungkapan cinta kepada Nabi. Struktur bahasanya tidak sepenuhnya naratif, melainkan lebih ekspresif dan penuh retorika. Karena itu, pembacaannya biasanya terasa lebih panjang dan membutuhkan intonasi yang khas agar pesan spiritualnya sampai.
Tradisi di Nusantara
Di Indonesia, kedua kitab ini sama-sama populer, meski penggunaannya sering berbeda menurut daerah. Maulid Diba’i lebih banyak dibacakan di Jawa, Madura, dan Sulawesi, sering kali dipadukan dengan rebana, hadrah, atau tradisi tahlilan.
Sementara Al-Barzanji sangat populer di Sumatera Barat, Banten, dan sebagian wilayah Kalimantan, dengan gaya pembacaan khas yang disebut berzanjen.
Keduanya tidak hanya menjadi teks bacaan, tetapi juga bagian dari budaya. Pembacaan Maulid sering diiringi dengan kenduri, pembagian makanan, dan acara doa bersama yang memperkuat ikatan sosial.
Perdebatan: Mana yang Lebih Rekomend?
Pertanyaan mana yang lebih rekomend antara Maulid Diba’i dan Al-Barzanji sebetulnya bukan tentang memilih salah satu. Keduanya memiliki nilai syariat yang sama: mengajak umat memperbanyak shalawat, mengenang sejarah Nabi, dan menumbuhkan rasa cinta kepada beliau.
Jika dilihat dari sisi kemudahan, Maulid Diba’i lebih ringan, mudah dibaca, dan cepat dipahami. Cocok untuk majelis pengajian umum, terutama di tingkat desa atau masyarakat awam.
Namun dari sisi estetika sastra dan kedalaman spiritual, Al-Barzanji menawarkan nuansa yang lebih puitis dan penuh makna. Bacaan ini sering dipilih pada acara resmi atau tradisi masyarakat yang ingin menekankan sisi keagungan Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Kalender Hijriyah Bulan Agustus-September 2025
Kesimpulan
Baik Maulid Diba’i maupun Al-Barzanji sama-sama menjadi warisan literatur Islam yang kaya, sekaligus membentuk tradisi Maulid di Nusantara.
Tidak ada yang lebih utama secara mutlak; yang terpenting adalah niat tulus dalam memperingati kelahiran Rasulullah SAW, meneladani akhlaknya, dan mempererat ukhuwah umat Islam.
Dengan kata lain, pilihan membaca Diba’i atau Barzanji hanyalah soal selera, tradisi, dan kebutuhan komunitas. Selama tujuannya adalah untuk meneguhkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, maka keduanya tetaplah rekomendasi terbaik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









