Apa itu Hari Tarwiyah dan Hari Arafah? Intip Sejarahnya Lengkap di Sini!

AKURAT.CO Dalam kalender Islam, dua hari penting yang muncul menjelang perayaan Iduladha adalah Hari Tarwiyah dan Hari Arafah.
Keduanya memiliki makna historis dan spiritual yang dalam, terutama bagi umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji.
Namun, tidak sedikit masyarakat Muslim yang mengenal nama-nama hari ini tanpa benar-benar memahami akar sejarah, konteks ritual, dan perkembangannya dalam tradisi Islam.
Maka pertanyaan kritis yang patut diajukan adalah: dari mana asal-usul Hari Tarwiyah dan Hari Arafah, dan apa makna sejatinya dalam sejarah Islam?
Hari Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah. Secara bahasa, kata tarwiyah berasal dari akar kata Arab rawwa–yarwi, yang berarti "mengairi" atau "mempersiapkan air."
Istilah ini merujuk pada kebiasaan jamaah haji di masa awal Islam—bahkan sebelum masa Nabi Muhammad—yang pada hari tersebut mulai bersiap meninggalkan Makkah menuju Mina, sambil membawa perbekalan air yang cukup karena mereka akan memasuki rangkaian ibadah puncak di padang Arafah dan Muzdalifah, wilayah yang pada masa lalu sangat minim sumber air.
Baca Juga: Niat Puasa Dzulhijjah Jelang Idul Adha Boleh Dilakukan di Siang Hari, Begini Dalilnya
Dalam sejarah haji Islam, Hari Tarwiyah menandai dimulainya manasik utama. Para jamaah haji mengenakan ihram (jika belum melakukannya), kemudian menuju Mina untuk bermalam (mabit) sebelum keesokan harinya bergerak menuju Arafah.
Meski tampak sederhana, pergerakan ini mencerminkan awal dari rangkaian simbolik pengosongan diri, perpindahan jiwa dari kenyamanan duniawi menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Sementara itu, Hari Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah memiliki kedudukan yang jauh lebih menonjol, baik secara fikih maupun spiritual. Nama "Arafah" berasal dari kata ‘arafa–ya‘rifu yang berarti “mengetahui” atau “mengenali.” Para ulama menafsirkannya dengan beragam pandangan.
Sebagian menyebut bahwa Arafah adalah tempat Nabi Ibrahim mengenali kembali perintah Allah untuk menyembelih putranya. Sebagian lain mengaitkannya dengan pertemuan Adam dan Hawa yang diyakini terjadi di padang Arafah setelah terpisah akibat diturunkan dari surga.
Namun secara ritual, Arafah adalah puncak dari ibadah haji, ketika seluruh jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk melakukan wuquf (berdiam dan berdoa), yang merupakan rukun terpenting dalam haji. Nabi Muhammad pernah bersabda: "Al-Hajju ‘Arafah" — “Haji itu adalah (wuquf di) Arafah” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Hari Arafah juga memiliki dimensi ibadah yang luas bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji. Dalam hadis sahih dari Sahih Muslim, puasa pada Hari Arafah dijanjikan sebagai penghapus dosa dua tahun: satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya.
Hal ini menegaskan bahwa Arafah bukan hanya milik jamaah haji, tetapi juga momen spiritual global yang menghubungkan seluruh umat dalam satu getaran doa, tobat, dan harapan.
Dari perspektif sejarah, kedua hari ini berakar kuat dalam praktik ibadah haji yang telah berlangsung sejak zaman Nabi Ibrahim. Haji bukanlah ritual yang baru di masa Nabi Muhammad; ia merupakan lanjutan dan penyempurnaan dari ibadah monoteistik yang diajarkan para nabi sebelumnya.
Maka tidak mengherankan jika nama-nama tempat dan hari dalam haji, seperti Tarwiyah dan Arafah, menyimpan makna yang sarat simbol dan jejak peradaban purba.
Namun penting dicatat, penggunaan istilah “Hari Tarwiyah” dan “Hari Arafah” tidak muncul dalam Al-Qur’an secara eksplisit. Kedua istilah ini lebih sering dijumpai dalam tradisi hadis dan karya-karya fikih klasik.
Seiring berkembangnya praktik haji, istilah tersebut kemudian melembaga dalam ingatan kolektif umat sebagai bagian dari penandaan waktu dan aktivitas spiritual.
Baca Juga: Niat Puasa Dzulhijjah Idul Adha: Panduan Ibadah yang Sarat Makna
Dalam konteks kontemporer, Hari Tarwiyah dan Hari Arafah tidak hanya dilihat sebagai bagian dari teknis pelaksanaan ibadah haji, tetapi juga sebagai momen reflektif umat Islam di luar tanah suci.
Banyak komunitas Muslim yang memanfaatkan dua hari ini sebagai momentum puasa sunah, pengajian tematik, dan ajakan untuk kembali kepada nilai keikhlasan dan pengorbanan.
Pada akhirnya, Hari Tarwiyah dan Hari Arafah bukanlah sekadar nama dalam kalender Islam. Keduanya adalah panggilan spiritual untuk mengenali kembali jejak sejarah agama yang penuh perjuangan dan ketundukan.
Dengan memahami akar sejarahnya secara utuh, kita dapat menyelami makna ibadah bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai bagian dari warisan transhistoris yang menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu titik: penghambaan kepada Tuhan Yang Esa.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









