Akurat

Tips Islami Hindari Pelecehan Seksual saat Berobat ke Dokter yang Beda Lawan Jenis

Fajar Rizky Ramadhan | 17 April 2025, 16:27 WIB
Tips Islami Hindari Pelecehan Seksual saat Berobat ke Dokter yang Beda Lawan Jenis

AKURAT.CO Kasus pelecehan seksual di dunia medis menjadi isu yang terus mengemuka. Situasi ini semakin kompleks ketika pasien perempuan harus berhadapan dengan dokter laki-laki, atau sebaliknya. Di tengah dilema ini, panduan Islam menawarkan prinsip kehati-hatian yang relevan untuk diterapkan di era modern.

Sebuah studi dari Journal of the American Medical Association (JAMA) tahun 2023 mengungkap bahwa sekitar 9% pasien perempuan pernah merasa tidak nyaman dengan cara dokter lawan jenis melakukan pemeriksaan, dan 3% di antaranya mengalami tindakan yang masuk dalam kategori pelecehan.

Sementara itu, dalam survei di Indonesia oleh Komnas Perempuan tahun 2022, disebutkan bahwa pelecehan seksual terbanyak terjadi di ruang tertutup, termasuk ruang praktik medis.

Dalam Islam, menjaga kehormatan diri (al-‘iffah) adalah prinsip utama. Islam tidak melarang pengobatan antara lawan jenis, tetapi menekankan adab, batasan, dan darurat sebagai pertimbangan utama.

Baca Juga: Mau ke Dokter Kandungan? Ini 5 Tips Islami Agar Tidak Terjebak pada Pelecehan Seksual

Tips Islami Saat Harus Berobat ke Dokter Lawan Jenis:

1. Utamakan Dokter Sesama Jenis

Jika memungkinkan, cari dokter dengan jenis kelamin yang sama. Ini selaras dengan kaidah “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih”—menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada menarik manfaat.

2. Minta Ditemani Mahram atau Pendamping

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Tirmidzi). Kehadiran pendamping menjadi langkah preventif terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.

3. Tegaskan Batasan Sejak Awal

Pasien berhak tahu bagian mana yang akan diperiksa dan bagaimana prosedurnya. Jangan ragu bertanya atau menolak tindakan yang dirasa tidak relevan dengan keluhan medis.

4. Pilih Fasilitas Kesehatan yang Terbuka terhadap Nilai Religius

Beberapa rumah sakit kini menyediakan layanan berbasis syariah. Di tempat-tempat ini, nilai kehormatan pasien menjadi perhatian utama, termasuk pemisahan ruang, penyediaan dokter sesama jenis, dan prosedur yang transparan.

5. Kenali Hak Sebagai Pasien

UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menjamin hak pasien atas privasi dan penjelasan yang jelas sebelum tindakan medis dilakukan. Pasien berhak menolak jika merasa tidak nyaman, apalagi jika menyangkut hal sensitif.

Baca Juga: Paula Verhoeven Disebut Terbukti Selingkuhi Baim Wong, Apa Hukum Istri Selingkuh dalam Islam?

Dalamkondisi darurat, seperti tidak adanya dokter sesama jenis atau situasi gawat darurat, ulama sepakat bahwa tindakan medis boleh dilakukan oleh dokter lawan jenis, selama niatnya adalah penyelamatan dan tidak menimbulkan fitnah. Namun, ini tetap bukan pembenaran untuk abai terhadap adab dan perlindungan diri.

Menjaga kesehatan adalah bagian dari amanah tubuh yang diberikan Allah SWT. Tapi dalam mencapainya, umat Islam tetap dituntut untuk cermat, tidak lengah, dan bijaksana. Bukan sekadar sembuh, tapi tetap terjaga izzah dan kehormatan diri. Itulah esensi pengobatan yang beradab.

Wallahu A'lam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.