Akurat

Tafsir Surah Ar-Ra'd Surah 13 Ayat 5, Lengkap dengan Pandangan Ulama

Fajar Rizky Ramadhan | 6 Desember 2024, 10:00 WIB
Tafsir Surah Ar-Ra'd Surah 13 Ayat 5, Lengkap dengan Pandangan Ulama

AKURAT.CO Surah Ar-Ra'd, ayat 5, adalah salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang mengandung pesan mendalam tentang keimanan, keajaiban penciptaan, serta peringatan bagi orang-orang yang meragukan kebenaran wahyu Allah. Berikut adalah bunyi ayat tersebut beserta terjemahannya:

اِنۡ تَعۡجَبۡ فَعَجَبٌ قَوۡلُهُمۡ ءَاِذَا كُنَّا تُرٰبًا ءَاِنَّا لَفِىۡ خَلۡقٍ جَدِيۡدٍ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا بِرَبِّهِمۡ‌ ؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ الۡاَغۡلٰلُ فِىۡۤ اَعۡنَاقِهِمۡ‌ ؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِ‌ ؕ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ

"Jika engkau merasa heran, maka yang lebih mengherankan adalah ucapan mereka: 'Apakah setelah kami menjadi tanah, kami benar-benar akan (dibangkitkan) kembali dalam ciptaan yang baru?' Mereka itulah orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya; mereka itu (akan) dibelenggu lehernya; mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS Ar-Ra'd: 5)

Ayat ini mengungkapkan keajaiban penciptaan dan kebodohan argumen kaum kafir yang meragukan kebangkitan setelah kematian.

Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu tentang hari kebangkitan, sebagian kaum kafir Makkah merespons dengan sinis dan penuh keingkaran, mempertanyakan bagaimana manusia yang telah hancur menjadi tanah dapat diciptakan kembali.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 30: Manusia sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Dalam tafsirnya, para ulama menjelaskan bahwa ayat ini dimulai dengan mengingatkan Rasulullah SAW bahwa jika beliau heran dengan sesuatu, maka keheranan yang lebih besar seharusnya diarahkan pada keingkaran kaum musyrik terhadap kebangkitan.

Padahal, Allah yang menciptakan manusia dari tiada tentu mampu menghidupkan kembali mereka setelah kematian.

Kalimat "اِنۡ تَعۡجَبۡ فَعَجَبٌ قَوۡلُهُمۡ" (Jika engkau merasa heran, maka yang lebih mengherankan adalah ucapan mereka) menunjukkan ironi.

Kaum kafir menganggap kebangkitan setelah mati sebagai sesuatu yang mustahil, sementara mereka sebenarnya menyaksikan keajaiban yang lebih besar, yakni penciptaan manusia dari tanah pada awalnya.

Selanjutnya, ayat ini mengidentifikasi orang-orang yang mengingkari Allah sebagai mereka yang akan mendapat balasan berat. Frasa "وَاُولٰٓٮِٕكَ الۡاَغۡلٰلُ فِىۡۤ اَعۡنَاقِهِمۡ" (mereka itu akan dibelenggu lehernya) menggambarkan kondisi mereka di akhirat.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa belenggu di leher adalah simbol kehinaan dan siksaan bagi orang-orang yang menolak kebenaran. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya dihukum secara fisik tetapi juga dihinakan secara spiritual.

Baca Juga: Tafsir Mimpi Bertemu dengan Nabi Muhammad SAW Menurut Islam

Ayat ini diakhiri dengan pernyataan tegas: "وَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِ‌ ؕ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ" (mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya). Ini adalah peringatan serius bahwa sikap ingkar dan keengganan menerima kebenaran memiliki konsekuensi kekal.

Pesan utama dari ayat ini adalah bahwa keimanan kepada kebangkitan dan kekuasaan Allah adalah inti dari keyakinan seorang Muslim.

Dengan merenungkan ayat ini, kita diajak untuk memperkuat keimanan dan tidak terjebak dalam keingkaran yang didasarkan pada logika sempit manusia.

Penciptaan awal manusia saja adalah bukti nyata kekuasaan Allah; maka, kebangkitan setelah mati adalah hal yang sangat mungkin bagi-Nya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.