Sejarah Rebo Wekasan, Tradisi yang Diyakini untuk Tolak Bala dan Musibah di Rabu Terakhir Bulan Safar

AKURAT.CO Rebo Wekasan yang juga dikenal sebagai Rabu Pungkasan adalah Rabu terakhir di bulan Safar.
Menurut pengumuman dari Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), 1 Safar 1446 H jatuh pada Selasa (6/8/2024).
Dengan demikian, Rabu terakhir di bulan Safar tahun ini akan jatuh pada 4 September 2024, yang bertepatan dengan 29 Safar 1446 H.
Di beberapa bagian daerah di Indonesia terutama di Jawa, masyarakat melakukan ritual khusus pada hari ini untuk menolak bala atau musibah yang diyakini terjadi pada hari tersebut.
Lantas, bagaimana sejarah dari tradisi Rebo Wekasan yang masih dilakukan di beberapa daerah di nusantara?
Sejarah tradisi Rebo Wekasan
Tradisi Rebo Wekasan pertama kali diadakan pada masa Wali Songo yaitu pada zaman sembilan tokoh Islam yang dihormati di Pulau Jawa.
Baca Juga: Ridwan Kamil-Suswono Janji Pendidikan dan Kesehatan untuk Semua Anak di Jakarta
Pada masa itu, banyak ulama menyebut bahwa pada bulan Safar, Allah SWT menurunkan lebih dari 500 jenis penyakit.
Untuk mengantisipasi datangnya penyakit dan terhindar dari musibah, para ulama melakukan tirakatan dengan memperbanyak ibadah dan doa.
Kegiatan ini bertujuan agar Allah melindungi mereka dari segala penyakit dan bencana yang diyakini turun pada Rabu terakhir di bulan Safar.
Menurut laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, bulan Safar dianggap sebagai bulan penuh malapetaka atau bahaya.
Baca Juga: Situs Pemda, Militer Hingga Pendidikan Ini Diretas Judi Online
Tradisi ini mulai berkembang pada masa penyebaran Islam di Indonesia.
Pada saat itu, masyarakat Jawa meyakini bahwa Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari naas, sebuah kepercayaan yang awalnya berasal dari tradisi Yahudi.
Para wali kemudian mengubah kepercayaan ini menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Peran Wali Songo sangat penting dalam pengembangan tradisi Rebo Wekasan. Sebagai contoh, di Desa Suci, Kabupaten Gresik, ada keyakinan bahwa Sunan Giri pernah menunjukkan sumber air saat musim kemarau.
Sunan Giri juga berpesan agar masyarakat mengadakan upacara adat sebagai ungkapan syukur, yang kemudian berkembang menjadi tradisi Rebo Wekasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









