5 Humor Abu Nawas Terbaru Dan Terpopuler, Lucu Penuh Makna Dan Dijamin Bikin Ngakak

AKURAT.CO Abu Nawas adalah seorang penyair Arab yang memiliki nama asli Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami, lahir di kota Ahvaz di wilayah Persia, memiliki campuran keturunan Arab dan Persia.
Dengan gaya humor yang lucu namun penuh makna, Abu Nawas sering mengulas tajam para penguasa, termasuk Khalifah seperti masa pemerintahan Harun Al-Rasyid.
Berikut humor-humor Abu Nawas yang terpopuler:
1. Perbedaan Abu Nawas dan Sang Raja ketika diguyur hujan
Suatu hari, Abu Nawas bersama rombongan kerajaan pergi berburu ke hutan. Saat tengah dalam perjalanan berburu, hujan deras tiba-tiba mengguyur.
Raja dan pengawalnya segera menjadi basah kuyup karena kuda mereka tidak dapat berlari dengan cepat.
Namun, Abu Nawas dan kudanya tiba di tempat peristirahatan terlebih dahulu sebelum Raja dan pengawalnya. Abu Nawas menunggu kedatangan Raja.
Setelah beberapa waktu, Raja dan pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup.
Raja heran melihat bahwa pakaian Abu Nawas tetap kering.
"Mengapa bajumu tetap kering, Abu Nawas? padahal aku berada di atas kuda yang lebih cepat, namun masih belum dapat mencapai tempat berlindung terdekat. Apalagi kamu dengan kuda yang lambat seperti ini," tanya Sang Raja.
"Hamba melepas pakaian hamba dan melipatkannya, kemudian duduk di atasnya, Baginda. Hamba melakukannya sampai hujan berhenti," jawab Abu Nawas.
2. Abu Nawas dan sang penjaga
Suatu hari, karena kena pasal penghinaan terhadap Baginda Raja, Abu Nawas dihukum. Dia memukuli tentara kerajaan bertubuh kekar.
Usai dihukum, Abu Nawas disuruh keluar istana.
Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Apakah kau lupa pada janjimu itu?” ujar dengan emosi si penjaga.
Dengan perasaan karut-marut, Abu Nawas hanya diam membisu. Dia khawatir emosinya meledak jika langsung menanggapi di penjaga itu.
“Kok diam saja? Kita sepakat, jika kau diberi hadiah oleh Baginda Raja, maka hadiah itu dibagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?" tanya si penjaga.
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepadaku tadi?" tanya Abu Nawas.
"Iya, tentu itu kan sudah perjanjian kita,” kata penjaga. "Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian," kata Abu Nawas.
"Wah ternyata kau baik hati, Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda Raja," ucap si penjaga.
Tanpa banyak omong lagi, Abu Nawas membalas pukul si penjaga berkali-kali. Karena itulah hadiah yang baru saja didapat olehnya dari Baginda Raja
3. Abu Nawas dan air susu pemalu
Suatu hari Raja Harun Al-Rasyid sedang berjalan-jalan ke pasar. Ia kemudian memergoki Abu Nawas sedang memegang botol berisi anggur.
“Wahai Abu Nawas, apa yang sedang kau pegang itu?” tegur Raja.
Abu Nawas gugup, ia pun menjawab, “Ini susu, Baginda.”
“Bagaimana mungkin air susu berwarna merah? Susu itu berwarna putih bersih.” Ucap raja terheran-heran atas jawaban Abu Nawas, sembari mengambil botol yang dipegang oleh Abu Nawas.
“Betul, Baginda. Semula air susu ini berwarna putih bersih. Ketika melihat baginda yang gagah dan rupawan, ia tersipu malu dan merah merona.”
Mendengar jawaban Abu Nawas, raja pun tertawa dan meninggalkan Abu Nawas sambil menggelengkan kepalanya.
4. Abu Nawas bersembunyi di kolong tempat tidur ketika maling masuk
Pada suatu hari, maling masuk ke rumah Abu Nawas.
Alih-alih mengusir atau mencegah pencurian, Abu Nawas justru bersembunyi di kolong tempat tidur.
Alhasil, si maling leluasa mengaduk-aduk rumah Abu Nawas dengan leluasa. Melihat itu, istri Abu Nawas marah.
"Kamu ini laki-laki kok takut sama pencuri?" marah sang istri.
Bukannya tersinggung, Abu Nawas justru menjawab, dia merasa sungkan dengan si maling. Sebab, di rumahnya tidak ada barang yang berharga yang bisa dicuri.
"Aku tidak enak kalau dia tahu saya, soalnya di rumah ini tidak ada apa-apa yang bisa dicuri," kata Abu Nawas.
5. Ide cerdik rumah sempit Abu Nawas
Pada suatu hari, ada seorang laki-laki datang ke rumah Abu Nawas.
Lelaki itu hendak mengeluh kepadanya mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Dia sedih karena rumahnya terasa sempit ditinggali banyak orang.
"Abu Nawas, aku memiliki seorang istri dan delapan anak, tapi rumahku begitu sempit. Setiap hari, mereka mengeluh dan merasa tak nyaman tinggal di rumah. Kami ingin pindah dari rumah tersebut, tapi tidak mempunyai uang. Tolonglah katakan padaku apa yang harus kulakukan," kata lelaki itu.
Mendengar hal itu, Abu Nawas kemudian berpikir sejak. Tak berapa lama, sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Kamu mempunyai domba di rumah?" tanya Abu Nawas padanya.
"Aku tak menaiki domba, jadi aku tak memilikinya," jawabnya.
Setelah mendengar jawabannya, dia meminta lelaki tersebut untuk membeli sebuah domba dan menyuruhnya untuk menaruh di rumah.
Pria itu kemudian menuruti usul Abu Nawas dan kemudian pergi membeli seekor domba.
Keesokan harinya, dia datang lagi ke rumah Abu Nawas.
"Bagaimana ini? Setelah aku mengikuti usulmu, nyatanya rumahku menjadi tambah sempit dan berantakan," keluhnya.
"Kalau begitu, cobalah beli dua ekor domba lagi dan peliharalah di dalam rumahmu," jawab Abu Nawas.
Kemudian, pria itu bergegas pergi ke pasar dan membeli dua ekor domba lagi.
Namun, bukannya seperti yang diharapkan, rumahnya justru semakin terasa sempit.
Dengan perasaan jengkel, dia pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengadu yang ketiga kalinya.
Dia menceritakan semua apa yang terjadi, termasuk mengenai istrinya yang menjadi sering marah-marah karena domba tersebut.
Akhirnya, Abu Nawas menyarankannya untuk menjual semua domba yang dimiliki.
Keesokan harinya, kedua orang tersebut bertemu kembali.
"Bagaimana keadaan rumahmu sekarang, apakah sudah lebih lega?" tanya Abu Nawas
"Setelah aku menjual domba-domba tersebut, rumahku menjadi nyaman untuk ditinggali. Istriku pun tidak lagi marah-marah," jawab pria tersebut sambil tersenyum.
Akhirnya, Abu Nawas dapat menyelesaikan masalah pria dan rumah sempitnya itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







