Akurat Logo

9 Risiko Operasi LASIK untuk Mata yang Perlu Diketahui Sebelum Menjalani Prosedur

Redaksi Akurat | 22 Oktober 2026, 20:52 WIB
9 Risiko Operasi LASIK untuk Mata yang Perlu Diketahui Sebelum Menjalani Prosedur
Operasi LASIK untuk Mata

AKURAT.CO Operasi LASIK menjadi salah satu pilihan bagi orang yang ingin mengurangi ketergantungan pada kacamata atau lensa kontak. Prosedur ini menggunakan teknologi laser untuk memperbaiki bentuk kornea sehingga cahaya dapat terfokus dengan lebih tepat pada retina.

Meski dapat membantu memperbaiki penglihatan, LASIK tetap merupakan prosedur bedah yang memiliki risiko. Efek samping yang muncul dapat berupa mata kering, silau saat melihat lampu, hingga gangguan penglihatan yang bertahan lama dalam kasus tertentu.

Oleh karena itu, calon pasien perlu memahami risiko operasi LASIK sebelum memutuskan menjalani prosedur ini. Pemeriksaan mata secara menyeluruh juga diperlukan untuk mengetahui apakah seseorang memenuhi syarat untuk menjalani operasi.

Baca Juga: Mata Kanannya Buta, Dewi Yull Tolak Lakukan Operasi Lasik

Apa Itu Operasi LASIK?

LASIK merupakan singkatan dari Laser-Assisted in Situ Keratomileusis, yaitu prosedur bedah refraktif yang menggunakan laser untuk mengubah bentuk kornea atau lapisan bening di bagian depan mata.

Prosedur ini umumnya digunakan untuk membantu mengoreksi rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), dan mata silinder (astigmatisme). Perubahan bentuk kornea bertujuan membantu cahaya terfokus dengan lebih tepat pada retina sehingga penglihatan menjadi lebih jelas.

Dalam prosedur LASIK, dokter membuat lapisan tipis pada kornea, kemudian menggunakan laser untuk membentuk kembali jaringan di bawahnya. Setelah itu, lapisan tersebut dikembalikan ke posisinya.

Meskipun banyak pasien memperoleh hasil penglihatan yang memuaskan, hasil operasi setiap orang dapat berbeda. Sebagian pasien masih membutuhkan kacamata atau lensa kontak setelah operasi, sedangkan sebagian lainnya dapat mengalami efek samping atau komplikasi.

Menurut National Eye Institute (NEI), LASIK tidak cocok untuk semua orang. Karena itu, pemeriksaan kondisi mata dan konsultasi dengan dokter mata perlu dilakukan sebelum menjalani prosedur tersebut.

9 Risiko Operasi LASIK untuk Mata

Berikut sejumlah risiko dan efek samping operasi LASIK yang perlu diketahui sebelum mengambil keputusan.

1. Mata Kering

Mata kering merupakan salah satu efek samping yang umum terjadi setelah operasi LASIK. Kondisi ini dapat muncul karena prosedur tersebut memengaruhi saraf kornea yang berperan dalam mekanisme refleks produksi air mata.

Akibatnya, mata dapat terasa kering, perih, mengganjal, atau seperti kemasukan debu. Sebagian pasien juga mengalami penglihatan yang berubah-ubah karena permukaan mata tidak cukup lembap.

Pada banyak pasien, keluhan tersebut membaik selama masa pemulihan. Namun, pada sebagian orang, mata kering dapat berlangsung lebih lama dan membutuhkan penanganan tambahan, seperti penggunaan obat tetes pelumas sesuai anjuran dokter.

Orang yang sudah mengalami mata kering sebelum operasi perlu menjalani pemeriksaan secara cermat karena LASIK dapat memperburuk kondisi tersebut.

2. Silau dan Muncul Lingkaran Cahaya

Risiko berikutnya adalah munculnya gangguan penglihatan ketika melihat sumber cahaya, terutama pada malam hari. Pasien dapat melihat lingkaran di sekitar lampu atau halo, pancaran cahaya menyerupai bintang (starburst), maupun silau berlebihan.

Keluhan ini dapat membuat aktivitas malam hari terasa lebih sulit. Dalam kondisi tertentu, pasien mungkin mengalami kesulitan saat mengemudi karena cahaya lampu kendaraan dari arah berlawanan terasa menyilaukan.

Efek tersebut umumnya berkurang seiring pemulihan mata. Meski demikian, sebagian pasien dapat mengalami gangguan penglihatan malam yang bertahan lama.

Karena itu, kondisi kornea dan ukuran pupil perlu diperiksa sebelum operasi. Pasien juga sebaiknya mendiskusikan kebiasaan berkendara malam hari dengan dokter sebelum menentukan pilihan prosedur.

3. Penglihatan Buram atau Berubah-ubah

Penglihatan tidak selalu langsung stabil setelah LASIK. Pada masa pemulihan, pasien dapat mengalami pandangan buram, berkabut, atau perubahan ketajaman penglihatan sepanjang hari.

Kondisi ini dapat berkaitan dengan proses penyembuhan kornea, mata kering, atau perubahan refraksi setelah operasi. Dalam banyak kasus, penglihatan akan semakin jelas seiring berjalannya waktu.

Namun, jika pandangan justru semakin buram atau mengalami penurunan setelah sebelumnya membaik, pasien perlu segera menghubungi dokter mata.

National Eye Institute menjelaskan bahwa pemulihan setelah LASIK membutuhkan waktu. Penglihatan umumnya berangsur membaik selama beberapa bulan, sehingga pasien tetap perlu menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memantau hasil operasi.

4. Infeksi dan Peradangan Kornea

Seperti prosedur bedah lainnya, LASIK memiliki risiko infeksi dan peradangan. Komplikasi ini tergolong jarang, tetapi tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu proses penyembuhan mata.

Infeksi atau peradangan pada kornea dapat menyebabkan rasa sakit, kemerahan, sensitivitas terhadap cahaya, dan penurunan penglihatan. Jika tidak ditangani dengan tepat, komplikasi yang berat dapat menimbulkan jaringan parut dan gangguan penglihatan jangka panjang.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pasien perlu mengikuti petunjuk perawatan setelah operasi, menggunakan obat tetes sesuai resep, dan menjaga mata dari paparan kotoran maupun benturan.

Apabila mengalami nyeri berat atau penglihatan semakin menurun setelah operasi, pasien tidak boleh menunda pemeriksaan hingga jadwal kontrol berikutnya.

5. Kornea Melemah atau Mengalami Ektasia

LASIK bekerja dengan mengubah bentuk kornea melalui pengangkatan sebagian jaringan. Karena itu, kekuatan dan ketebalan kornea menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan pasien.

Salah satu komplikasi yang jarang terjadi adalah ektasia kornea. Kondisi ini ditandai dengan melemahnya struktur kornea sehingga bentuknya menonjol secara bertahap dan menyebabkan penglihatan menjadi tidak teratur.

Ektasia dapat menimbulkan gangguan refraksi, penglihatan buram, serta kesulitan memperoleh penglihatan yang jelas dengan kacamata biasa.

Risiko ini menjadi salah satu alasan pemeriksaan ketebalan dan bentuk kornea sangat penting sebelum operasi. Pasien dengan kornea terlalu tipis atau kondisi seperti keratokonus mungkin tidak cocok menjalani LASIK.

6. Gangguan pada Lapisan Kornea

Dalam prosedur LASIK, dokter membuat lapisan tipis pada kornea yang dikenal sebagai flap. Lapisan ini kemudian dikembalikan ke posisi semula setelah laser membentuk jaringan kornea.

Pada kondisi tertentu, dapat terjadi gangguan pada pembentukan atau penyembuhan lapisan tersebut. Contohnya meliputi lipatan pada flap, pergeseran lapisan akibat benturan, atau pertumbuhan sel di bawah flap.

Gangguan tersebut dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, penglihatan buram, atau masalah lain yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan dokter.

Pasien perlu mengikuti instruksi setelah operasi, terutama larangan menggosok mata dan anjuran melindungi mata dari benturan. Jika terjadi cedera pada mata setelah LASIK, segera cari pertolongan medis.

7. Hasil Koreksi Tidak Sesuai Harapan

Operasi LASIK tidak selalu menghasilkan ketajaman penglihatan sesuai target. Pada sebagian pasien, koreksi yang dilakukan mungkin kurang atau berlebihan sehingga gangguan refraksi masih tersisa.

Kondisi tersebut dikenal sebagai undercorrection atau overcorrection. Akibatnya, pasien mungkin masih memerlukan kacamata atau lensa kontak untuk aktivitas tertentu.

Dalam kasus tertentu, dokter dapat mempertimbangkan prosedur koreksi tambahan setelah kondisi mata stabil. Namun, tindakan lanjutan tidak selalu memungkinkan karena bergantung pada ketebalan kornea, kondisi mata, dan hasil pemeriksaan.

Calon pasien sebaiknya memahami bahwa tujuan LASIK adalah memperbaiki penglihatan, bukan menjamin setiap orang terbebas sepenuhnya dari kacamata seumur hidup.

8. Sensitif terhadap Cahaya dan Kesulitan Melihat pada Malam Hari

Selain silau, sebagian pasien dapat mengalami peningkatan sensitivitas terhadap cahaya setelah LASIK. Cahaya matahari, lampu ruangan, atau lampu kendaraan mungkin terasa lebih menyilaukan dibandingkan sebelum operasi.

Sebagian pasien juga mengalami penurunan kemampuan melihat dalam kondisi minim cahaya atau gangguan dalam membedakan objek dengan kontras rendah.

Keluhan tersebut dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, khususnya bagi orang yang sering berkendara pada malam hari atau bekerja di lingkungan dengan pencahayaan terbatas.

Gangguan ini sering membaik selama masa pemulihan. Namun, jika keluhan menetap atau mengganggu aktivitas, pasien perlu berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh evaluasi lebih lanjut.

9. Penurunan Penglihatan Permanen

Salah satu risiko paling serius dari operasi LASIK adalah penurunan kualitas penglihatan yang tidak sepenuhnya dapat diperbaiki.

Dalam kasus yang jarang, pasien dapat mengalami kehilangan sebagian ketajaman penglihatan terbaik yang sebelumnya bisa dicapai menggunakan kacamata atau lensa kontak. Komplikasi berat juga berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan permanen.

Risiko ini perlu dipahami meskipun banyak pasien memperoleh hasil yang baik setelah menjalani LASIK. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menegaskan bahwa sebagian pasien dapat mengalami kehilangan penglihatan yang tidak dapat dikoreksi sepenuhnya dengan kacamata, lensa kontak, atau operasi tambahan.

Oleh sebab itu, calon pasien perlu mempertimbangkan manfaat dan risiko secara seimbang. Keputusan menjalani LASIK sebaiknya dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan, kebutuhan penglihatan, dan penjelasan dokter mata, bukan semata-mata karena ingin berhenti menggunakan kacamata.

Siapa yang Berisiko Mengalami Komplikasi LASIK?

Tidak semua orang memenuhi syarat untuk menjalani operasi LASIK. Sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko komplikasi atau membuat prosedur ini tidak menjadi pilihan yang tepat.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kornea terlalu tipis atau bentuknya tidak normal. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan struktur kornea setelah operasi.

  • Mata kering sebelum operasi. LASIK berpotensi memperburuk keluhan yang sudah dialami pasien.

  • Keratokonus. Penyakit ini menyebabkan kornea menipis dan menonjol secara bertahap.

  • Penyakit mata tertentu. Infeksi mata, glaukoma, katarak, atau peradangan perlu dievaluasi sebelum tindakan.

  • Ukuran pupil besar. Pada sebagian pasien, kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan penglihatan malam.

  • Ukuran kacamata belum stabil. Perubahan refraksi yang masih berlangsung dapat memengaruhi ketepatan hasil operasi.

  • Kondisi kesehatan atau penggunaan obat tertentu. Kehamilan, menyusui, dan sejumlah obat dapat memengaruhi pengukuran mata atau pertimbangan kelayakan operasi.

Faktor-faktor tersebut tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami komplikasi. Dokter perlu menilai kondisi setiap pasien secara individual melalui pemeriksaan mata dan riwayat kesehatan.

Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Operasi LASIK?

Risiko LASIK tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, beberapa langkah dapat membantu mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi.

Pertama, lakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh sebelum operasi. Pemeriksaan ini dapat meliputi pengukuran ketebalan dan bentuk kornea, pemeriksaan permukaan mata, ukuran pupil, serta stabilitas ukuran refraksi.

Kedua, sampaikan riwayat kesehatan kepada dokter. Informasikan jika memiliki mata kering, penyakit mata tertentu, sedang hamil atau menyusui, maupun menggunakan obat yang berpotensi memengaruhi kondisi mata.

Ketiga, diskusikan manfaat, risiko, dan alternatif prosedur. LASIK bukan satu-satunya pilihan untuk mengoreksi gangguan refraksi. Dokter dapat menjelaskan alternatif seperti PRK atau prosedur lain yang sesuai dengan kondisi mata pasien.

Keempat, ikuti petunjuk perawatan setelah operasi. Gunakan obat tetes sesuai resep, hindari menggosok mata, dan lindungi mata dari benturan atau paparan yang dapat mengganggu penyembuhan.

Kelima, jangan melewatkan jadwal kontrol. Pemeriksaan lanjutan membantu dokter memantau proses penyembuhan dan mendeteksi komplikasi sedini mungkin.

Baca Juga: Cara Melindungi Mata dari Abu Vulkanik, Ikuti 7 Tips Ini agar Tidak Iritasi

Kapan Harus Kembali ke Dokter Setelah LASIK?

Sejumlah keluhan ringan dapat muncul setelah operasi, seperti mata terasa mengganjal, sedikit tidak nyaman, atau penglihatan sementara menjadi buram. Namun, pasien perlu segera menghubungi dokter jika mengalami gejala yang berat atau semakin memburuk.

Tanda yang perlu diwaspadai meliputi nyeri mata berat, penurunan penglihatan, kemerahan yang memburuk, atau sensitivitas terhadap cahaya yang semakin parah.

Pasien juga perlu mencari pertolongan medis apabila penglihatan yang semula membaik justru mengalami penurunan. Jangan menunggu jadwal pemeriksaan berikutnya jika muncul gejala baru yang tidak biasa.

Penanganan dini penting untuk mengetahui penyebab keluhan dan mencegah komplikasi berkembang menjadi lebih serius.

Operasi LASIK dapat membantu memperbaiki penglihatan pada orang dengan gangguan refraksi tertentu. Namun, prosedur ini tetap memiliki risiko, mulai dari mata kering, silau, penglihatan buram, infeksi, hingga komplikasi kornea dan penurunan penglihatan permanen dalam kasus yang jarang.

Sebagian besar efek samping membaik selama masa pemulihan, tetapi tidak semua pasien memiliki pengalaman yang sama. Faktor seperti kondisi kornea, kesehatan mata, dan stabilitas ukuran refraksi turut memengaruhi kelayakan serta hasil operasi.

Karena itu, calon pasien sebaiknya menjalani pemeriksaan mata menyeluruh dan berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan operasi LASIK. Memahami manfaat, keterbatasan, dan risikonya dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih tepat sesuai kondisi dan kebutuhan penglihatannya.

Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R