Kenapa Generasi Sekarang Gampang Merasa Capek Mental? Ini Alasannya

AKURAT.CO Istilah mental fatigue atau lelah mental kini bukan lagi hal asing bagi generasi muda, terutama Milenial dan Gen Z. Sering kali, kondisi ini disalahartikan sebagai kurangnya ketangguhan (resilience).
Padahal, jika ditinjau secara psikologis, beban mental yang dipikul generasi saat ini memiliki struktur yang jauh lebih kompleks dan melelahkan dibandingkan dekade sebelumnya.
Kelelahan ini bukan sekadar tanda kemalasan, melainkan sinyal dari otak yang sudah mencapai batas maksimalnya dalam memproses beban hidup di era modern yang serba cepat.
Baca Juga: Rizky Ridho: Saya Capek Mental dan Fisik, Marselino Sempat Menangis
Beban Kognitif Digital yang Tak Pernah Berhenti
Salah satu alasan utama kenapa generasi sekarang gampang merasa capek mental adalah fenomena information overload atau banjir informasi.
Melalui smartphone, otak dipaksa memproses ribuan potongan informasi setiap harinya, mulai dari berita global yang mencemaskan hingga notifikasi pekerjaan yang masuk di luar jam kantor.
Secara biologis, otak manusia memiliki kapasitas terbatas untuk membuat keputusan (decision fatigue). Ketika kita terus-menerus terpapar stimulan digital tanpa jeda, sistem saraf kita berada dalam mode "waspada" yang konstan.
Akibatnya, energi mental terkuras habis hanya untuk menyaring informasi yang sebenarnya tidak semuanya penting bagi hidup kita.
Hilangnya Batasan Antara Ruang Pribadi dan Pekerjaan
Di era konektivitas tinggi, batasan antara waktu istirahat dan waktu kerja menjadi sangat kabur.
Banyak orang merasa harus selalu tersedia (always on) untuk membalas pesan atau email kapan pun.
Tekanan untuk selalu produktif, yang sering disebut sebagai hustle culture, menciptakan rasa bersalah yang akut saat seseorang mencoba untuk tidak melakukan apa-apa.
Perasaan bahwa "orang lain sedang berprogres sementara saya diam" memicu kecemasan kronis yang sangat menguras energi emosional.
Inilah mengapa meskipun secara fisik seseorang hanya duduk di depan laptop, mereka bisa merasa seolah-olah baru saja berlari maraton secara mental.
Baca Juga: Daftar Handphone yang Memiliki Radiasi Tinggi
Dampak Perbandingan Sosial yang Masif (The Comparison Trap)
Media sosial sering kali menjadi panggung "pamer" pencapaian terbaik orang lain.
Generasi sekarang secara tidak sadar terus membandingkan realita hidup mereka yang penuh kekurangan dengan "etalase" hidup orang lain yang tampak sempurna.
Perbandingan yang terus-menerus ini memicu pelepasan hormon kortisol (hormon stres) dan menurunkan dopamin alami.
Rasa tidak puas terhadap diri sendiri inilah yang menjadi "pencuri" energi mental paling besar, membuat seseorang merasa lelah secara batin bahkan sebelum hari dimulai.
Kenapa generasi sekarang gampang merasa capek mental adalah akibat dari kombinasi tekanan digital, budaya produktivitas yang berlebihan, dan jebakan perbandingan sosial.
Menyadari bahwa kapasitas mental kita memiliki batas adalah bentuk self-love yang nyata.
Berhenti sejenak bukan berarti kalah, melainkan strategi agar kita bisa berjalan lebih jauh.
Nasywa Mutiara Pratista (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









