Metode Alternatif: Kunci Selamatkan 4,6 Juta Perokok Indonesia Menuju 2060

AKURAT.CO Analisis terbaru dari “Lives Saved Report 2024” yang dikeluarkan oleh Global Health Consults mengungkap, lebih dari 4,6 juta perokok di Indonesia berpotensi terselamatkan pada tahun 2060 melalui pemanfaatan metode Tobacco Harm Reduction (THR).
Laporan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan THR—yang memfokuskan pada peralihan konsumsi rokok ke produk tembakau alternatif dengan risiko jauh lebih rendah—dapat mengurangi kebiasaan merokok secara signifikan.
Hasil studi menunjukkan, produk tembakau alternatif mampu mengurangi paparan risiko hingga 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Menurut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dan salah satu penulis “Lives Saved Report”, dr. Ronny Lesmana, metode THR terbukti dua kali lebih efektif dalam mengurangi kebiasaan merokok dibandingkan terapi pengganti nikotin.
Baca Juga: Menpar Koordinasikan Persiapan Libur Panjang Lebaran, Fokus Penanganan Tiket dan Optimalisasi Anggaran
“Upaya untuk menghentikan rokok secara massal masih memiliki kendala besar, sehingga intervensi melalui THR menawarkan solusi yang lebih menjanjikan. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko pembakaran, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap nikotin secara bertahap,” ungkap dr. Ronny saat acara bedah laporan di Jakarta, Senin (3/2/2025).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan, pemerintah tengah giat mengendalikan penggunaan produk tembakau untuk menurunkan angka kematian dini akibat merokok sebanyak 300 ribu per tahun.
“Kementerian Kesehatan telah meluncurkan Layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) dan menerbitkan regulasi melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 serta Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 untuk mengatur produk tembakau, termasuk rokok elektronik,” jelas dr. Nadia.
Prof. Tikki Pangestu, peneliti sekaligus mantan Direktur Riset Kebijakan WHO, menyoroti bahwa dialog antar pemangku kepentingan dan peningkatan kualitas riset lokal sangat krusial untuk memaksimalkan manfaat THR.
“Negara-negara maju seperti Inggris, Selandia Baru, dan Jepang sudah menerapkan konsep pengurangan risiko tembakau dan berhasil menurunkan angka perokok konvensional. Indonesia perlu membuka diri lebih luas terhadap produk alternatif tembakau untuk mengurangi dampak buruk rokok,” ujar Prof. Tikki.
Baca Juga: Prabowo Terima Kunjungan PBNU, Fokus pada Kajian Asta Cita dan Pemanfaatan Kekayaan Alam
Praktisi kesehatan, dr. Arifandi Sanjaya, mengingatkan bahwa proses berhenti merokok sering kali terhambat oleh gejala putus zat nikotin.
“Membuat perokok berhenti itu sangat sulit karena tubuh sudah sangat bergantung pada nikotin. Produk alternatif yang lebih aman dapat menjadi jembatan efektif untuk mengurangi risiko kesehatan akibat pembakaran rokok,” terang dr. Arifandi.
Dengan hasil studi yang menjanjikan dan dukungan dari berbagai pihak, metode THR diharapkan tidak hanya mengurangi angka perokok, tetapi juga mendorong pengambilan kebijakan intervensi yang lebih holistik.
Riset lanjutan dan pendanaan yang memadai diharapkan dapat mengubah lanskap kesehatan masyarakat Indonesia, menyelamatkan jutaan nyawa dan mengurangi beban penyakit terkait merokok di masa depan.
Dengan segala potensi yang dimiliki, langkah konkret melalui intervensi kebijakan yang melibatkan seluruh aspek—dari regulator hingga komunitas riset—dipandang sebagai kunci dalam mengurangi bahaya rokok dan membangun masa depan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










