Studi: Polusi Udara Selama Kehamilan Tingkatkan Risiko Depresi Pasca Persalinan hingga 3 Tahun

AKURAT.CO Paparan polusi udara selama kehamilan telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan komplikasi terkait hipertensi.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan dampak lebih jauh, yaitu pada kesehatan mental ibu, dengan peningkatan risiko depresi pasca persalinan akibat polusi.
Menurut Medical Daily, Sabtu, sebuah studi baru mengungkapkan bahwa paparan polusi udara, terutama nitrogen dioksida (NO2) dan partikel kecil yang dapat dihirup (PM10), hampir menggandakan risiko depresi pasca persalinan. Risiko ini dapat bertahan hingga tiga tahun setelah melahirkan.
Baca Juga: Sikap Baim Wong ke Paula Verhoeven Dikuliti Netizen, Sopir Pasang Badan
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment menunjukkan, NO2 dan PM10, yang selama ini diketahui meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti asma, serangan jantung, dan stroke, juga berperan dalam memperburuk kondisi mental pasca melahirkan.
Tracy Bastain, penulis utama studi ini, menyatakan, penelitian tersebut mampu memperluas cakupan pengamatan dampak polusi udara hingga tiga tahun pasca persalinan, dan menemukan efek polusi udara selama kehamilan terhadap gejala depresi jangka panjang.
Penelitian ini melibatkan 361 ibu hamil yang dipantau sejak awal kehamilan hingga tiga tahun setelah melahirkan.
Gejala depresi dikumpulkan satu, dua, dan tiga tahun setelah persalinan dan dibandingkan dengan data paparan polusi udara mingguan di sekitar tempat tinggal mereka selama kehamilan.
Baca Juga: Viral di TikTok, Segini Harga Boneka Labubu yang Undang Kerusuhan Orang Dewasa di Pop Mart!
Hasilnya menunjukkan, wanita yang terpapar kadar NO2 yang lebih tinggi antara minggu ke-13 hingga ke-29 kehamilan memiliki risiko 3,86 kali lebih tinggi untuk mengalami depresi pasca persalinan hingga tiga tahun.
Sementara itu, wanita yang terpapar tingkat PM10 yang lebih tinggi antara minggu ke-12 hingga ke-28 juga menunjukkan peningkatan risiko serupa, sebesar 3,88 kali.
Dari data penelitian, 17,8 persen peserta mengalami gejala depresi setelah satu tahun, 17,5 persen setelah dua tahun, dan 13,4 persen setelah tiga tahun.
Tracy Bastain menambahkan, penelitian ini menemukan tingkat depresi pasca persalinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan data terbaru dari CDC, menandakan kemungkinan jumlah kasus yang tidak terdeteksi secara nasional.
Baca Juga: Megawati Serukan Hukum Internasional untuk Kendalikan Risiko AI dan Teknologi Modern
Bastain juga menekankan, depresi pasca persalinan dapat berlangsung lebih lama dari 12 bulan pertama setelah melahirkan, sehingga para ibu perlu berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan jika terus mengalami gejala depresi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 7Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 8Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 9Komisaris Sucofindo: Gus Alex Titip Satu Juta Dolar untuk Pansus Haji, Sosok Komsin Disebut Brimob Jujur
- 10Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun









