Beras Pera Dinilai Lebih Sehat Dibanding Pulen, Ini Alasannya

AKURAT.CO Beras merupakan makanan pokok bagi miliaran orang di dunia. Namun, tidak semua jenis beras memiliki dampak kesehatan yang sama.
Beras pera, jenis beras yang bertekstur kering, tidak lengket, dan cenderung terpisah-pisah saat dimasak, semakin populer dalam dunia nutrisi sebagai pilihan yang lebih sehat, khususnya bagi penderita diabetes dan mereka yang ingin menurunkan berat badan. Lantas, apa saja kelebihannya dibanding dengan beras biasa?
Indeks Glikemik Lebih Rendah
Dr. David Ludwig, profesor nutrisi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, menjelaskan dalam bukunya “Always Hungry?” bahwa makanan dengan indeks glikemik (IG) rendah membantu mengontrol lonjakan gula darah dan nafsu makan. Beras pera seperti beras basmati memiliki IG yang lebih rendah dibandingkan beras pulen seperti beras ketan atau beras Japonica yang sering dikonsumsi di Asia Timur.
Penelitian terbitan The American Journal of Clinical Nutrition (2015) juga menunjukkan bahwa konsumsi beras ber-IG rendah membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi risiko sindrom metabolik.
Kandungan Serat Lebih Tinggi
Dalam publikasi oleh World Health Organization (WHO), peningkatan asupan serat dikaitkan langsung dengan penurunan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal. Beras pera yang belum disosoh (seperti beras merah atau beras cokelat panjang) mengandung lebih banyak serat pangan dibandingkan beras pulen putih yang lebih halus.
“Beras merah atau cokelat long grain mengandung lapisan dedak dan germ yang penting bagi pencernaan dan pengendalian kolesterol,” ujar Dr. Walter Willett, profesor epidemiologi dan nutrisi dari Harvard Medical School, dalam jurnal Lancet Public Health (2019).
Manfaat Pencernaan dan Kenyang Lebih Lama
Studi oleh Nutrition Research Reviews (2020) mencatat bahwa makanan tinggi serat seperti beras pera dapat memberikan rasa kenyang lebih lama, memperlambat pencernaan karbohidrat, dan menekan hormon lapar ghrelin. Ini menjadikan beras pera sebagai pilihan strategis dalam program penurunan berat badan atau kontrol nafsu makan.
Beras pera, khususnya jenis long grain whole grain, bukan hanya alternatif nasi putih pulen yang rendah serat, tetapi juga bagian dari pendekatan nutrisi modern yang mendukung kestabilan gula darah, kesehatan jantung, dan pengendalian berat badan.
Meskipun preferensi rasa bisa subjektif, bukti ilmiah dan pendapat ahli menunjukkan keunggulan gizi beras pera yang layak dipertimbangkan dalam pola makan sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat







