Iran Tegaskan Tak Akan Berunding dengan AS Sebelum Tuntutan Dipenuhi

AKURAT.CO Iran menegaskan tidak akan menggelar perundingan dengan Amerika Serikat (AS) sebelum Washington memenuhi tuntutan Teheran. Sikap keras Iran itu disampaikan kepada Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, di Teheran pada Selasa, 20 Oktober 2026, di tengah upaya Pakistan memediasi konflik kedua negara.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian membahas upaya mediasi Pakistan dan perkembangan situasi regional dengan Munir. Pertemuan tersebut dilaporkan media Iran, Nournews, ketika peluang untuk menghidupkan kembali perundingan Iran-AS masih menghadapi sejumlah hambatan.
Pakistan menjadi salah satu perantara utama dalam upaya meredakan konflik Iran dan AS. Mediasi sebelumnya sempat menghasilkan kesepakatan damai sementara pada Juni, tetapi nota kesepahaman Islamabad itu segera runtuh setelah pertempuran antara kedua negara kembali berkobar beberapa pekan kemudian.
Iran Ajukan Tujuh Syarat kepada AS
Selain bertemu Pezeshkian, Munir juga menemui Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. Dalam pertemuan tersebut, Qalibaf menegaskan Washington tidak akan bisa memulihkan kepercayaan Teheran sebelum memenuhi tujuh syarat yang diajukan Iran bulan lalu sebagai prasyarat pembukaan kembali Selat Hormuz.
Tuntutan Iran mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran, serta penghentian permusuhan di seluruh front konflik regional.
Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan pesan serupa dalam pertemuan terpisah dengan Munir. Dia menegaskan Iran tidak akan berunding dengan Washington sebelum seluruh tuntutan Teheran dipenuhi.
Rezaei juga menyatakan seluruh material nuklir yang telah diperkaya akan tetap berada di Iran. Pernyataan tersebut mengulangi sikap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menolak pengiriman uranium dengan tingkat pengayaan mendekati kebutuhan senjata nuklir ke luar negeri.
AS Desak Iran Kurangi Pengayaan Uranium
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya mengatakan Iran harus melakukan pengurangan kapasitas pengayaan uranium secara signifikan atau meaningful untuk memenuhi tuntutan Washington dan mengakhiri perang yang telah berlangsung selama delapan bulan.
Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Barat selama ini menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah keputusan Teheran memperkaya uranium hingga 60 persen.
Tingkat pengayaan tersebut jauh melampaui kebutuhan umum untuk penggunaan nuklir sipil dan lebih dekat dengan tingkat sekitar 90 persen yang lazim dikaitkan dengan uranium untuk senjata nuklir.
Namun, Iran membantah tuduhan tersebut. Teheran menegaskan program nuklirnya bukan ditujukan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Perbedaan tuntutan terkait blokade, sanksi ekonomi, penghentian permusuhan, dan program nuklir membuat upaya mediasi Pakistan menghadapi tantangan besar. Pernyataan terbaru para pejabat Iran menunjukkan bahwa perundingan dengan AS masih bergantung pada kesediaan Washington memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran.
Sumber: Asiaone
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 4Prediksi Skor PSG vs Barcelona, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Prediksi Skor Como vs Man Utd 21 Oktober 2026: Setan Merah Terancam
- 6Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 7Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 8Kalender Jawa 19 Oktober 2026: Watak Weton Senin Wage Dikenal Jujur dan Tenang
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa







