China, Rusia, dan India Bertemu di KTT SCO, Bahas Tatanan Dunia di Tengah Rivalitas dengan Barat

AKURAT.CO Para pemimpin China, Rusia, dan India berkumpul bersama sejumlah kepala negara lainnya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Bishkek, Kirgizstan, Senin (30/8/2020).
KTT tersebut menjadi salah satu forum penting bagi negara-negara yang ingin memperkuat kerja sama di luar orbit negara-negara Barat. Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Perdana Menteri India Narendra Modi turut menghadiri rangkaian pertemuan di ibu kota Kirgizstan tersebut.
SCO selama ini dipandang China dan Rusia sebagai salah satu wadah yang dapat memperkuat kerja sama Eurasia sekaligus menjadi penyeimbang terhadap pengaruh global Amerika Serikat.
Di sela-sela KTT, Putin dan Xi Jinping menggelar pertemuan bilateral. Media pemerintah Rusia melaporkan bahwa Putin menyatakan kesiapan Moskow untuk menjadikan kebijakan bebas visa dengan China sebagai aturan permanen.
Sementara itu, Putin dijadwalkan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa, bertepatan dengan dimulainya agenda resmi KTT SCO.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika Rusia masih menjalani perang di Ukraina yang telah memasuki tahun kelima, sementara Iran juga menghadapi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Bagi Moskow dan Teheran, forum SCO menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara non-Barat di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara-negara Barat.
SCO Makin Besar, tetapi Belum Menjadi Blok Politik
Shanghai Cooperation Organization didirikan pada 2001 oleh China, Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan. Pada awalnya, organisasi tersebut dibentuk sebagai forum kerja sama keamanan regional.
Dalam perkembangannya, SCO semakin luas dan kini memiliki 10 anggota, yakni China, Rusia, India, Iran, Pakistan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan.
Sejumlah negara lainnya juga memiliki status sebagai mitra dialog.
Meski jumlah anggotanya terus bertambah, SCO belum menjadi sebuah blok politik atau militer yang benar-benar terpadu. Negara-negara anggotanya memiliki kepentingan nasional dan pandangan geopolitik yang berbeda.
China dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir berupaya meningkatkan peran SCO sebagai wadah kerja sama alternatif di tengah dominasi lembaga-lembaga yang berorientasi Barat, termasuk kelompok G7.
Beijing juga mendorong perluasan kerja sama ekonomi, pembangunan, dan keuangan di antara negara-negara anggota.
Kementerian Luar Negeri China sebelumnya menyatakan bahwa SCO telah berhasil menemukan jalur baru bagi kerja sama regional.
India Hadapi Kepentingan China dan Pakistan
Bagi India, KTT SCO memiliki arti strategis tersendiri. India berada dalam posisi yang cukup unik karena SCO sangat dipengaruhi China, sementara Pakistan yang merupakan rival India juga menjadi anggota organisasi tersebut.
Dinakar Peri, peneliti bidang studi keamanan di Carnegie India, menilai keikutsertaan India memberikan kesempatan bagi New Delhi untuk mengamati secara langsung perubahan geopolitik di kawasan.
Menurutnya, SCO memungkinkan India menjaga kepentingannya sekaligus membangun hubungan dengan berbagai kekuatan besar.
"Meski tidak sepenuhnya menentukan agenda, forum ini memberikan New Delhi pandangan langsung mengenai kawasan dan memungkinkan India menyeimbangkan posisinya dengan negara-negara lain," kata Peri.
Karena itu, bagi India, kehadiran dalam KTT SCO tidak selalu ditujukan untuk menghasilkan kesepakatan besar. Forum tersebut juga menjadi panggung untuk menunjukkan posisi strategis India di tengah persaingan kekuatan besar.
Turki Ingin Perkuat Posisi di Eurasia
Turki juga memiliki hubungan dengan SCO meski belum berstatus sebagai anggota penuh. Negara tersebut menjadi mitra dialog organisasi sejak 2012.
Presiden Recep Tayyip Erdogan berulang kali menyatakan keinginannya agar Turki dapat menjadi anggota tetap SCO.
Keinginan tersebut menjadi bagian dari strategi Ankara untuk menjaga keseimbangan hubungan luar negeri. Di satu sisi, Turki tetap menjadi anggota NATO dan memiliki hubungan perdagangan yang erat dengan Uni Eropa. Di sisi lain, Ankara berusaha memperkuat pengaruhnya di Eurasia.
Upaya tersebut semakin penting bagi Turki setelah proses keanggotaan negara itu di Uni Eropa mengalami kebuntuan selama lebih dari dua dekade.
Sumber: Koreaherald
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







