Akurat Logo

Alkohol Menjadi Titik Panas dalam Perang Dagang AS-Kanada, Dua Pihak Alami Kerugian

Fitra Iskandar | 31 Agustus 2026, 16:57 WIB
Alkohol Menjadi Titik Panas dalam Perang Dagang AS-Kanada, Dua Pihak Alami Kerugian
ilustrasi

AKURAT.CO Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Kanada kini merembet ke industri minuman beralkohol. Perselisihan yang bermula dari kebijakan tarif membuat produk alkohol dari kedua negara sama-sama terpukul.

Konflik bermula setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif 25 persen terhadap berbagai barang asal Kanada. Ottawa kemudian membalas dengan tarif serupa, termasuk terhadap produk alkohol.

Sejumlah provinsi Kanada bahkan menarik produk alkohol Amerika dari rak toko dan menghentikan pembelian baru. Meski tarif balasan Kanada terhadap produk AS sempat dicabut pada September 2025, sebagian besar pembatasan alkohol masih bertahan.

Dampaknya cukup besar. Data Gedung Putih menunjukkan impor alkohol AS ke Kanada anjlok 81 persen, dari sekitar USD718 juta menjadi USD137 juta, sepanjang Maret 2025 hingga Februari 2026.

Sebagai perbandingan, total ekspor AS ke Kanada pada 2025 hanya turun 4,8 persen.

Chris Swonger, CEO Distilled Spirits Council of the United States, menyebut industri alkohol sebagai korban perang dagang.

“Industri kami benar-benar menjadi korban yang tidak beruntung.”

Menurut Swonger, dampaknya telah terasa selama sekitar satu setengah tahun dan berpotensi menjalar dari produsen hingga bartender, distributor, pengecer, dan sektor hospitality.

Kanada Kini Terkena Tarif Alkohol 50 Persen

Kini giliran produsen Kanada menghadapi tekanan besar. Setelah negosiasi perdagangan kedua negara kembali gagal, Trump memberlakukan tarif 50 persen terhadap alkohol asal Kanada, mencakup wiski, anggur, dan bir.

Produk seperti Crown Royal, Canadian Club, dan Fireball berpotensi terdampak. Canadian whisky merupakan salah satu produk alkohol Kanada yang paling banyak diekspor ke AS.

Industri Kanada jauh lebih bergantung pada pasar AS. Menurut Spirits Canada, sekitar 93 persen nilai ekspor minuman beralkohol Kanada ditujukan ke Amerika Serikat, sementara hampir 50 persen produksi alkohol Kanada bergantung pada permintaan pasar AS.

Presiden dan CEO Spirits Canada, Cal Bricker, mengatakan industri alkohol di kedua negara telah mengalami dampak serius.

“Industri minuman beralkohol Kanada dan Amerika sama-sama merasakan dampak signifikan dari perselisihan perdagangan yang lebih luas ini.”

Industri Alkohol Minta Tarif dan Larangan Dicabut

Persoalan alkohol bahkan menjadi salah satu isu dalam negosiasi perdagangan yang gagal mencapai kesepakatan.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebelumnya meminta provinsi-provinsi di negaranya mengembalikan produk alkohol Amerika ke rak toko sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan dengan Washington.

Namun, setelah perundingan gagal, sejumlah pembatasan tetap diberlakukan.

Industri alkohol Amerika dan Kanada kini sama-sama menyerukan agar larangan dan tarif dihentikan.

Swonger menilai persaingan seharusnya berlangsung melalui kualitas produk, bukan hambatan perdagangan.

“Kami ingin bersaing melalui tegukan dan cita rasa, bukan melalui hambatan perdagangan.”

Perang dagang yang awalnya ditujukan untuk menekan perdagangan antarnegara kini justru menempatkan industri alkohol kedua negara dalam posisi sulit, dengan produsen, distributor, pengecer hingga konsumen ikut menanggung dampaknya.

Sumber: Businessinsider

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.