Akurat Logo

Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan 162 Orang: Tim Penyelamat Kerahkan Helikopter Cari Ratusan yang Hilang

Okto Rizki Alpino | 27 Agustus 2026, 10:47 WIB
Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan 162 Orang: Tim Penyelamat Kerahkan Helikopter Cari Ratusan yang Hilang
Banjir bandang Nepal - Aljazeera

AKURAT.CO Tim penyelamat Nepal menggunakan helikopter untuk mencari ratusan orang yang masih hilang setelah longsoran lumpur dan bebatuan runtuh ke sungai di kawasan perbatasan Nepal dengan Tibet, China. Bencana tersebut memicu banjir besar yang menerjang sejumlah kota dan lembah hingga menewaskan sedikitnya 162 orang.

Pejabat pariwisata Nepal mengatakan sebanyak 579 wisatawan masih dinyatakan hilang, termasuk lebih dari 400 warga negara asing. Kawasan yang dilanda bencana merupakan wilayah yang ramai dikunjungi wisatawan untuk trekking dan peziarah.

Kepolisian Nepal memperkirakan jumlah korban tewas masih akan bertambah seiring pencarian dan evakuasi terus dilakukan.

"Jumlah ini akan bertambah karena pencarian telah dilanjutkan dan lebih banyak jenazah diperkirakan akan ditemukan," kata juru bicara kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, kepada Reuters.

Menurut juru bicara Dewan Pariwisata Nepal Sunil Sharma kepada Associated Press, dari wisatawan yang masih hilang terdapat 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada.

Sementara itu, otoritas China melaporkan sebanyak 558 orang masih hilang akibat bencana longsor di wilayah Gyirong, Tibet. Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, menyebut 260 di antaranya merupakan warga negara asing.

Belum diketahui apakah data korban hilang dari Nepal dan China mencakup orang yang sama.

Lumpur dan Air Bah Menyapu Permukiman

Video yang telah diverifikasi memperlihatkan derasnya aliran air bercampur lumpur dan material longsoran menerjang kawasan perbatasan di Gyirong. Puluhan orang terlihat tersapu arus dalam bencana tersebut.

Di wilayah Nepal, rumah, jalan, serta sejumlah proyek pembangkit listrik juga rusak atau hanyut akibat derasnya aliran air dan material longsoran.

Keshav Prasad Baral, 68 tahun, merupakan salah satu korban yang selamat. Ia mengatakan lumpur datang secara tiba-tiba dengan volume yang sangat besar.

"Itu adalah aliran lumpur yang sangat besar yang langsung mengarah kepada kami," ujar Baral yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Menurutnya, ketinggian lumpur terus meningkat ketika mendekati rumahnya. Ia sempat berusaha membawa istrinya ke tempat yang lebih tinggi, tetapi sang istri terseret lumpur.

Sebuah helikopter kemudian mengevakuasi Baral sekitar empat jam setelah bencana terjadi.

"Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur," katanya. "Dia sudah pergi."

Korban selamat lainnya menceritakan bagaimana dirinya menyelamatkan diri dengan berpegangan pada pohon mangga. Dari tempat tersebut, ia menyaksikan rumah tempatnya bekerja lenyap diterjang banjir dan material longsoran.

Tim penyelamat kini terus menyisir wilayah terdampak menggunakan helikopter dan peralatan pencarian untuk menemukan korban yang masih hilang. Dengan kondisi medan yang sulit dan banyaknya material lumpur serta bebatuan, proses pencarian diperkirakan akan berlangsung cukup lama.

Sumber: Huffpost

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.