Trump Kirim Kesepakatan Nuklir AS-Saudi ke Kongres, Tapi Ada Syarat Israel

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim rancangan kesepakatan kerja sama energi nuklir sipil dengan Arab Saudi ke Kongres AS. Namun, Gedung Putih menegaskan kesepakatan tersebut hanya akan diberlakukan jika Riyadh bersedia menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Seorang pejabat pemerintahan AS mengatakan kepada Reuters, dokumen kesepakatan yang dicapai pada Juli itu telah dikirim ke Kongres pada Senin (24/8).
Perjanjian tersebut akan membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk mengekspor teknologi nuklir sipil ke Arab Saudi.
Pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan posisi Trump terkait normalisasi hubungan Saudi-Israel tidak berubah.
“Posisi presiden tidak berubah bahwa kesepakatan hanya akan dilanjutkan jika Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords,” kata pejabat tersebut melalui email.
Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait perkembangan tersebut.
Kongres Punya Waktu 90 Hari
Pengiriman kesepakatan ke Kongres menjadi tahapan penting dalam proses kerja sama nuklir AS-Saudi. Kongres memiliki waktu 90 hari masa sidang untuk meninjau kesepakatan tersebut.
Namun, belum jelas bagaimana pengajuan perjanjian tersebut akan membantu Trump mencapai target politiknya, terutama terkait upaya mendorong normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari agenda Trump untuk memperluas Abraham Accords, rangkaian perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat untuk menormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab dan negara mayoritas Muslim.
Pada 2020 dan 2021, Israel menjalin hubungan resmi dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan melalui kerangka tersebut.
Saudi Minta Jalan Menuju Negara Palestina
Arab Saudi sebelumnya diperkirakan semakin dekat dengan normalisasi hubungan dengan Israel. Namun, situasi berubah drastis setelah pecahnya perang Israel-Hamas di Gaza pada Oktober 2023.
Riyadh kini menegaskan bahwa pengakuan terhadap Israel harus didahului dengan jalur yang jelas dan tidak dapat dibatalkan menuju pembentukan negara Palestina.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Dukung Mesir Amankan Hak Air di Sungai Nil: Indonesia Prihatin Atas Upaya Pelanggaran Hukum Internasional
- 10Prabowo dan El-Sisi Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan, Mesir Beri Tambahan Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia






