Produksi Kentang Prancis Diprediksi Anjlok 23 Persen, Terendah dalam Lebih dari 30 Tahun

AKURAT.CO Produksi kentang di Prancis diperkirakan merosot sedikitnya 23 persen pada 2026 setelah lima gelombang panas berturut-turut dan kekeringan ekstrem menghantam kawasan pertanian. Kondisi ini diproyeksikan menjadi hasil panen kentang terendah di negara tersebut dalam lebih dari tiga dekade.
Musim panas tahun ini menjadi salah satu yang paling berat bagi sektor pertanian Prancis. Sejak akhir Mei, negara itu mengalami defisit curah hujan yang parah, sementara tingkat kelembapan tanah mencapai titik terendah dalam catatan sejarah. Kombinasi suhu tinggi dan minimnya hujan membuat pertumbuhan tanaman kentang terganggu di berbagai wilayah sentra produksi.
Presiden National Union of French Potato Producers, Geoffroy D’Evry, mengatakan produktivitas lahan turun drastis dibandingkan musim sebelumnya.
“Tahun lalu hasil panen mencapai lebih dari 43,5 ton per hektare. Tahun ini, proyeksinya hanya sekitar 34,5 ton per hektare,” ujarnya kepada media setempat.
Menurut D’Evry, angka tersebut bahkan lebih rendah daripada musim panen 2022 yang selama ini dikenal sebagai salah satu periode dengan hasil terburuk dalam sejarah industri kentang Prancis.
Penurunan produksi tidak hanya disebabkan cuaca ekstrem, tetapi juga berkurangnya luas lahan tanam. Setelah terjadi kelebihan produksi pada 2025, petani di Prancis mengurangi area budidaya kentang sekitar 10 persen. Di kawasan Eropa Barat Laut, pengurangan lahan bahkan mencapai 11 persen.
Dampak ekonomi yang ditimbulkan pun sangat besar. Industri kentang Prancis memperkirakan kerugian telah menyentuh 400 juta euro atau sekitar Rp8,8 triliun, mencerminkan tingginya biaya yang harus ditanggung petani akibat perubahan iklim.
D’Evry menegaskan bahwa beban krisis iklim tidak seharusnya dipikul oleh petani saja. Menurutnya, seluruh rantai pasok, mulai dari pembeli hingga konsumen, perlu memahami bahwa memproduksi kentang kini menjadi usaha yang jauh lebih mahal dan berisiko.
Ia juga memperingatkan bahwa berkurangnya hasil panen berpotensi memicu kenaikan harga kentang di pasar konsumen dalam waktu dekat.
Merespons situasi tersebut, Menteri Pertanian Prancis Annie Genevard mengumumkan pemerintah sedang menyiapkan paket bantuan menyeluruh bagi petani yang terdampak gelombang panas. Program itu akan mencakup bantuan darurat untuk menjaga arus kas usaha tani, keringanan iuran jaminan sosial, relaksasi sejumlah aturan administratif, serta dukungan agar lahan yang mengalami kerusakan berat dapat kembali berproduksi.
Meski demikian, pemerintah belum mengungkap nilai anggaran yang akan digelontorkan. Keputusan mengenai alokasi bantuan dijadwalkan dibahas dalam pertemuan para prefek pada 27 Agustus 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu







