Kanada dan Australia Kecam Israel Hentikan Proses Pidana atas Tewasnya 7 Pekerja World Central Kitchen di Gaza
AKURAT.CO Kanada dan Australia mengecam keputusan Israel yang tidak melanjutkan proses pidana terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan udara pada April 2024 yang menewaskan tujuh pekerja kemanusiaan World Central Kitchen (WCK) di Gaza.
Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand mengatakan keputusan untuk menutup kasus tanpa penyelidikan pidana lanjutan merupakan langkah yang tidak dapat diterima.
Menurut Anand, penyelidikan Israel sendiri telah menemukan adanya kegagalan serius dalam proses yang berujung pada serangan tersebut. Namun, kasus itu tetap ditutup tanpa pertanggungjawaban lebih lanjut.
“Kegagalan serius telah ditemukan dalam pelaksanaan serangan tersebut. Menutup kasus tanpa pertanggungjawaban lebih lanjut membuat keluarga korban tetap tidak memperoleh jawaban yang mereka cari selama lebih dari dua tahun,” kata Anand dalam pernyataannya, Kamis (21/8/2026).
Ia menegaskan bahwa pekerja kemanusiaan yang memberikan makanan dan bantuan penyelamat nyawa di wilayah konflik harus mendapatkan perlindungan.
Kanada, lanjut Anand, akan terus mendesak agar hukum humaniter internasional dihormati serta meminta penjelasan menyeluruh mengenai insiden yang menewaskan tujuh pekerja tersebut.
Tujuh Pekerja WCK Tewas dalam Serangan
Serangan terjadi pada 1 April 2024 ketika kendaraan yang membawa pekerja WCK dihantam serangan udara Israel di selatan Deir al-Balah, Gaza.
Tujuh pekerja kemanusiaan tewas dalam serangan tersebut. Mereka termasuk warga Kanada Jacob Flickinger dan warga Australia Zomi Frankcom, serta lima pekerja lainnya dari organisasi kemanusiaan yang berbasis di Amerika Serikat itu.
WCK sebelumnya telah menuntut penyelidikan independen atas serangan tersebut dan mengecam keras tindakan militer Israel.
Israel Akui Ada Kesalahan, tetapi Tolak Proses Pidana
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan telah menyelesaikan penilaian faktual mengenai insiden tersebut.
Dalam laporan itu, IDF mengakui adanya kesalahan serius dalam proses pengambilan keputusan yang berujung pada serangan. Namun, militer Israel menyimpulkan tidak terdapat dasar yang cukup untuk membuka penyelidikan pidana.
Menurut laporan tersebut, pasukan Israel sebelumnya melihat sejumlah pria bersenjata yang berada di sekitar kendaraan WCK. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa orang-orang tersebut merupakan anggota Hamas yang terkait dengan konvoi bantuan.
Belakangan diketahui bahwa mereka merupakan personel keamanan bersenjata yang disewa untuk melindungi konvoi kemanusiaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo








