Karena Sering Diskreditkan Militer Rusia, Politikus Oposisi Rusia Lev Shlosberg Divonis 11 Tahun Penjara
AKURAT.CO Pengadilan Rusia menjatuhkan hukuman 11 tahun satu bulan penjara kepada Lev Shlosberg, politikus oposisi dan wakil ketua Partai Yabloko, karena dinyatakan bersalah berulang kali mendiskreditkan militer Rusia dan menyebarkan informasi yang disebut sebagai berita palsu tentang angkatan bersenjata.
Hakim Pengadilan Kota Pskov, Viktoria Malyamova, membacakan vonis terhadap Shlosberg yang berusia 63 tahun pada Senin (17/8/2026). Ia akan menjalani hukuman di koloni pemasyarakatan dengan rezim umum.
Jaksa Anna Goryacheva sebelumnya menuntut hukuman lebih berat, yakni 12 tahun satu bulan penjara.
Vonis tersebut merupakan penggabungan hukuman dari dua perkara yang menjerat Shlosberg serta memperhitungkan hukuman sebelumnya berdasarkan aturan Rusia mengenai status "agen asing".
Dipenjara karena Unggahan tentang Perang Ukraina
Salah satu perkara terhadap Shlosberg berkaitan dengan unggahan ulang di kanal Telegram miliknya pada 25 Februari 2022, sehari setelah Rusia memulai invasi besar-besaran ke Ukraina.
Ia mengunggah kembali sebuah posting dari media Rusia Ekho Moskvy yang menampilkan sampul surat kabar Inggris Daily Mirror. Sampul tersebut memperlihatkan foto Presiden Vladimir Putin di samping gambar seorang perempuan Ukraina yang terluka dengan judul yang menyiratkan tanggung jawab Putin atas pertumpahan darah.
Shlosberg membantah dakwaan tersebut. Ia berargumen bahwa unggahan itu dibuat sebelum aturan hukum pidana yang digunakan untuk menjeratnya diberlakukan.
Seruan Gencatan Senjata Jadi Dasar Dakwaan
Dakwaan kedua berhubungan dengan sebuah debat pada 10 Januari 2025 yang disiarkan melalui kanal YouTube Zhivoy Gvozd.
Dalam debat bertajuk "A Shameful Peace or a Just War", Shlosberg menyerukan agar kesepakatan gencatan senjata segera dilakukan.
Lawan debatnya, sejarawan Yury Pivovarov, justru mendukung kelanjutan perang hingga Ukraina mencapai kemenangan. Ia memperingatkan bahwa perdamaian yang terlalu cepat berpotensi memicu konflik baru.
Rekaman debat tersebut kemudian muncul di media sosial Odnoklassniki pada 12 Januari 2025 dan menjadi bagian dari dasar perkara terhadap Shlosberg.
Shlosberg mengatakan dirinya tidak membuat halaman Odnoklassniki tersebut dan tidak mengunggah rekaman debat ke platform itu. Ia juga menilai sejumlah pernyataan dalam dakwaan telah diambil di luar konteks.
Proses Sidang Menuai Sorotan
Persidangan Shlosberg juga diwarnai persoalan terkait proses pembelaan.
Hakim menutup pemeriksaan perkara pada 14 Agustus. Pengacara pembela Shlosberg tidak hadir dalam persidangan, sementara pengacara yang ditunjuk negara menyatakan belum siap menyampaikan pembelaan secara lisan.
Shlosberg tidak pernah diperiksa secara langsung di ruang sidang. Kesaksiannya dari tahap penyidikan dibacakan pada 28 Juli meskipun ia menyatakan keberatan.
Ia sebelumnya mengatakan akan memberikan kesaksian setelah pihak pembela menyelesaikan seluruh bukti. Hakim menafsirkan sikap tersebut sebagai penolakan untuk bersaksi.
Shlosberg kemudian menyampaikan pernyataan terakhirnya di pengadilan, tetapi hakim menghentikannya ketika ia sedang berbicara.
Shlosberg Sudah Lama Mengkritik Kremlin
Shlosberg dikenal sebagai politikus oposisi, aktivis hak asasi manusia, dan jurnalis yang lama mengkritik kebijakan pemerintah Rusia.
Ia merupakan wakil ketua Partai Yabloko dan berbasis di Pskov. Pada awal 2000-an, Shlosberg mendirikan surat kabar independen Pskovskaya Gubernia.
Media tersebut mendapat perhatian setelah mengungkap kematian sejumlah penerjun payung Rusia dari Pskov yang bertempur di Ukraina pada 2014.
Pemerintah Rusia menetapkan Shlosberg sebagai "agen asing" pada Juni 2023. Pada Januari 2025, ia kembali menghadapi perkara hukum karena dituduh tidak memenuhi kewajibannya sebagai individu yang menyandang status tersebut.
Shlosberg menyatakan tidak bersalah dalam perkara-perkara yang menjeratnya.
Vonis terbaru membuat politikus berusia 63 tahun itu harus menjalani hukuman lebih dari satu dekade di penjara, sekaligus mempertegas tekanan hukum yang dihadapi tokoh-tokoh oposisi dan pengkritik perang Rusia di Ukraina.
Sumber: France24
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2, Cek Jadwal Garuda di Final FIFA ASEAN Cup 2026!
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah








