Harga Sembako AS Meledak 33 Persen, Warga Amerika Terpaksa Ubah Pola Makan demi Bertahan Hidup

AKURAT.CO Harga kebutuhan pangan di sejumlah kota besar Amerika Serikat (AS) melonjak hingga 33 persen dibandingkan awal 2019. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi dalam sekitar 50 tahun dan mulai mengubah pola belanja serta gaya hidup masyarakat Amerika.
Associated Press (AP) melaporkan pada 25 Juli waktu setempat, mengutip data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) di bawah Departemen Tenaga Kerja AS, bahwa harga bahan makanan telah mengalami kenaikan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan harga pangan tersebut dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari gangguan rantai pasok akibat pandemi Covid-19, bencana iklim, konflik internasional, hingga kenaikan tarif impor.
Pandemi Covid-19 sebelumnya mengganggu rantai pasok global dan meningkatkan biaya transportasi serta tenaga kerja. Kondisi tersebut kemudian diperparah oleh berbagai bencana alam dan wabah penyakit yang mengganggu produksi pangan.
Kekeringan, badai, serta wabah flu burung turut menekan produksi komoditas pertanian, produk susu, dan peternakan. Berkurangnya pasokan di tengah permintaan yang tetap tinggi kemudian ikut mendorong harga pangan semakin mahal.
Tarif Impor Trump Ikut Mendorong Harga Pangan
Tekanan terhadap harga kebutuhan pokok juga datang dari kebijakan perdagangan AS.
Pemerintahan Donald Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap sejumlah barang impor utama antara 2024 dan 2025 dengan alasan melindungi industri dalam negeri. Komoditas seperti kopi, tomat, dan cokelat termasuk produk yang terdampak.
Kebijakan tersebut ikut meningkatkan biaya sejumlah produk yang bergantung pada pasokan dari luar negeri. Pada akhirnya, kenaikan biaya impor berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih tinggi.
Sementara itu, perang Rusia-Ukraina juga mengganggu pasokan minyak dan pupuk global. Kenaikan biaya energi dan pupuk kemudian meningkatkan biaya produksi pangan dari sektor pertanian hingga distribusi.
Belakangan, meningkatnya konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap harga minyak dunia. Jika harga energi meningkat, biaya transportasi dan logistik juga ikut terdorong naik, sehingga semakin memperbesar tekanan inflasi pangan.
Warga AS Mulai Kurangi Makan Daging
Di tengah harga pangan yang terus meningkat, masyarakat Amerika mulai menerapkan berbagai strategi untuk menghemat pengeluaran.
AP melaporkan semakin banyak konsumen memanfaatkan aplikasi diskon dan kupon untuk membandingkan harga sebelum berbelanja. Sebagian masyarakat juga mulai meninggalkan produk bermerek dan beralih ke pilihan yang lebih murah.
Perubahan pola makan menjadi strategi lain yang dilakukan rumah tangga untuk mengurangi pengeluaran.
Sejumlah keluarga mengurangi konsumsi daging sapi dan menggantinya dengan ayam atau produk daging olahan yang dinilai lebih terjangkau.
Seorang warga Texas mengatakan harga daging sapi telah meningkat begitu tinggi sehingga keluarganya kini lebih sering mengonsumsi ayam dan daging olahan.
Sementara seorang warga Massachusetts mengaku harus merencanakan menu makanan berdasarkan produk yang sedang mendapatkan potongan harga.
Di San Francisco, sejumlah warga bahkan mengaku semakin bergantung pada program bantuan pangan dan bank makanan. Mereka menilai kebutuhan hidup akan semakin sulit dipenuhi tanpa dukungan tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di Hawaii. Ketika harga produk pertanian lokal melonjak, sebagian konsumen mulai beralih ke produk impor yang dijual dalam jumlah besar melalui toko grosir seperti Costco.
Rumah Tangga Miskin Paling Terpukul
Kenaikan harga pangan memberikan tekanan paling besar kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
AP melaporkan, rumah tangga berpenghasilan rendah kini dapat menghabiskan sekitar sepertiga pendapatannya hanya untuk membeli makanan. Beban tersebut jauh lebih berat dibandingkan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi.
Sally Lyons Wyatt, wakil presiden eksekutif perusahaan riset pasar Circana Global, mengatakan tekanan finansial membuat konsumen mulai menyusun strategi baru untuk mengelola kebutuhan rumah tangga.
Menurutnya, masyarakat tidak sekadar memangkas pengeluaran. Mereka mulai mengubah gaya hidup secara strategis dengan memilih barang diskon, mengganti merek, hingga menyesuaikan pola makan.
Dengan kata lain, lonjakan harga pangan telah mendorong konsumen Amerika untuk mengubah cara mereka berbelanja dan menentukan prioritas kebutuhan sehari-hari.
Konsumen Tetapkan Batas Belanja Mingguan
Matt Hamory, kepala global praktik grocery di perusahaan konsultan AlixPartners, mengatakan konsumen cenderung memiliki batas pengeluaran mingguan yang secara psikologis dianggap masih dapat diterima untuk kebutuhan makanan.
Ketika harga masih dianggap wajar, konsumen mungkin tetap berbelanja di toko yang lebih mahal atau membeli makanan ringan.
Namun, ketika harga mulai melewati batas yang dianggap masuk akal, perilaku konsumen berubah.
Mereka akan beralih ke toko yang lebih murah, mengurangi pembelian, mengganti produk dengan alternatif yang lebih terjangkau, atau bahkan mengurangi jumlah makanan yang dibeli.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan harga pangan di AS tidak lagi sekadar menjadi persoalan ekonomi, tetapi mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari mengurangi konsumsi daging sapi hingga berburu kupon diskon, warga Amerika kini dipaksa beradaptasi dengan biaya hidup yang semakin tinggi.
Jika tren kenaikan harga pangan terus berlanjut, tekanan terhadap rumah tangga berpenghasilan rendah diperkirakan akan semakin besar dan dapat memperdalam persoalan ketahanan pangan di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Sumber: Asiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 3Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen







