Serangan Ketiga Pekan Ini Usai Kapal Dagang Diserang di Selat Hormuz, AS Gempur 140 Target Militer Iran

AKURAT.CO Amerika Serikat kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Iran dengan menghantam sekitar 140 target militer dalam operasi terbaru yang digelar pada Sabtu (11/7/2026) waktu setempat. Serangan ini menjadi aksi militer ketiga Washington dalam sepekan terakhir setelah kapal dagang di Selat Hormuz kembali menjadi sasaran serangan.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi dilakukan sebagai respons atas serangan yang dituding dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal kargo komersial M/V GFS Galaxy di Selat Hormuz.
CENTCOM: Lebih dari 300 Target Iran Sudah Dihancurkan
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyebut serangan terbaru melibatkan pesawat tempur, drone, kapal perang, serta sistem persenjataan presisi yang diluncurkan dari darat maupun laut.
Operasi tersebut menyasar berbagai fasilitas strategis milik militer Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, kemampuan tempur angkatan laut, gudang amunisi, jaringan komunikasi, hingga pos pengawasan pantai.
Dengan tambahan serangan terbaru ini, Amerika Serikat mengklaim telah menghantam lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga gelombang operasi sepanjang pekan ini.
"Selama tiga malam serangan pekan ini, CENTCOM telah menghantam lebih dari 300 target atas perintah Panglima Tertinggi untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.
Kapal Dagang Diserang, Satu Awak Dilaporkan Hilang
Washington menyebut operasi militer tersebut dipicu serangan rudal terhadap kapal kargo M/V GFS Galaxy yang sedang berlayar di Selat Hormuz.
Menurut pemerintah AS, rudal yang ditembakkan Iran menghantam kapal tersebut hingga menyebabkan kerusakan berat dan membuat satu awak sipil dinyatakan hilang.
Namun, Iran membantah telah melakukan serangan langsung.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim pihaknya hanya melepaskan tembakan peringatan setelah kapal tersebut disebut tidak mengubah jalur pelayarannya sesuai instruksi.
Iran Tutup Selat Hormuz
Tak lama setelah insiden tersebut, pemerintah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan.
Keputusan itu diambil setelah upaya diplomatik yang berlangsung di Muscat, Oman, gagal menghasilkan kesepakatan untuk meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia, mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak global biasanya melewati Selat Hormuz.
AS Klaim Jalur Pelayaran Tetap Beroperasi
Meski operasi militer masih berlangsung, CENTCOM menyatakan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz tetap berjalan.
Militer Amerika mengungkapkan bahwa sejak awal Mei, pasukannya telah membantu mengamankan pelayaran lebih dari 800 kapal dagang yang mengangkut sekitar 400 juta barel minyak mentah melewati jalur strategis tersebut.
Washington menegaskan operasi militernya bertujuan menjaga kebebasan navigasi dan melindungi kapal-kapal sipil dari ancaman serangan di kawasan Teluk.
Sumber: Anadolu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo







