Jepang Pertimbangkan Kirim Militer untuk Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Tetapi Ada Syaratnya

AKURAT.CO Pemerintah Jepang membuka kemungkinan mengerahkan militer untuk operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, jalur vital pasokan minyak dunia, jika tercapai gencatan senjata dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyatakan, opsi tersebut masih bersifat hipotetis dan bergantung pada situasi di lapangan.
“Jika terjadi gencatan senjata penuh, secara hipotetis, maka hal seperti pembersihan ranjau bisa menjadi pertimbangan,” ujar Motegi dalam program Fuji TV, Minggu (23/3). Ia menambahkan, apabila ranjau laut menghambat pelayaran, langkah tersebut dapat dipertimbangkan lebih lanjut.
Di bawah konstitusi pascaperang yang bersifat pasifis, ruang gerak militer Jepang terbatas. Namun, undang-undang keamanan tahun 2015 memungkinkan Pasukan Bela Diri Jepang beroperasi di luar negeri jika ancaman terhadap sekutu dekat berpotensi mengancam kelangsungan negara dan tidak ada alternatif lain.
Motegi juga menegaskan, Tokyo belum memiliki rencana untuk mengupayakan jalur khusus bagi kapal Jepang yang tertahan di Selat Hormuz. Meski demikian, ia menilai sangat penting menciptakan kondisi agar seluruh kapal dapat melintas di jalur sempit tersebut, yang menjadi jalur sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kepada kantor berita Kyodo bahwa ia telah berbicara dengan Motegi mengenai kemungkinan memberikan akses bagi kapal-kapal terkait Jepang untuk melintas di selat tersebut.
Jepang memperoleh sekitar 90 persen pasokan minyaknya melalui Selat Hormuz, yang sebagian besar ditutup oleh Teheran sejak konflik memasuki pekan keempat. Lonjakan harga minyak global mendorong Jepang dan sejumlah negara lain melepas cadangan minyak mereka.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Washington, Kamis (20/3). Dalam pertemuan itu, Trump mendesak Jepang untuk meningkatkan kontribusi, termasuk mengirim kapal perang guna membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Usai pertemuan, Takaichi menyatakan telah menjelaskan kepada Trump mengenai bentuk dukungan yang dapat dan tidak dapat diberikan Jepang sesuai dengan kerangka hukum yang berlaku.
Sumber: Reuters
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 3Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen








