Perubahan Iklim Perparah Banjir Besar di Afrika Selatan, Ratusan Ribu Warga Mengungsi

AKURAT.CO Para peneliti melaporkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia memperparah hujan lebat dan banjir besar yang melanda wilayah Afrika bagian selatan. Bencana ini dilaporkan menewaskan lebih dari 100 orang dan memaksa lebih dari 300.000 warga mengungsi.
Banjir tersebut menerjang sejumlah negara, termasuk Afrika Selatan, Mozambik, dan Zimbabwe, menyebabkan kerusakan luas pada rumah, jalan, serta jembatan.
Menurut laporan ABC News, curah hujan ekstrem memicu banjir besar di berbagai wilayah. Studi World Weather Attribution mengungkapkan bahwa kawasan tersebut menerima curah hujan setara satu tahun hanya dalam waktu 10 hari. Para ilmuwan menilai intensitas hujan yang biasanya terjadi sekali dalam 50 tahun ini menjadi bukti jelas meningkatnya kejadian hujan ekstrem yang semakin ganas akibat perubahan iklim.
Kerusakan terparah terjadi di Mozambik, di mana banyak rumah terendam sepenuhnya. Di Afrika Selatan, jembatan dan jalan di Provinsi Limpopo dan Mpumalanga rusak parah akibat terjangan banjir, sementara sejumlah wilayah di Zimbabwe mengalami dampak serupa. Wilayah tengah dan selatan Mozambik menjadi area paling terdampak, termasuk ibu kota Provinsi Gaza, Xai-Xai, serta Kota Chokwe yang sebagian besar terendam air.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa fenomena cuaca La Nina turut memperburuk kondisi banjir. Meski La Nina secara alami membawa curah hujan lebih tinggi di Afrika selatan, dampaknya kini terjadi dalam atmosfer yang jauh lebih hangat. Peneliti iklim senior dari Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI), Izidine Pinto, menyatakan bahwa pembakaran bahan bakar fosil secara berkelanjutan telah meningkatkan intensitas hujan ekstrem dan mengubah peristiwa alam menjadi jauh lebih merusak.
Pinto menambahkan bahwa peningkatan intensitas curah hujan hingga 40 persen tidak dapat dijelaskan tanpa faktor perubahan iklim akibat ulah manusia. Menurutnya, hujan lebat yang sebelumnya sudah berbahaya kini berubah menjadi banjir besar yang sulit dihadapi oleh masyarakat. Hal senada disampaikan peneliti badan meteorologi Mozambik, Bernardino Nhantumbo, yang menyebut peristiwa ini di luar perkiraan karena beberapa wilayah mencatat curah hujan dua hingga tiga hari setara dengan total musim hujan.
Para peneliti juga menekankan pentingnya pengembangan model iklim yang dibuat di Afrika untuk memahami dampak perubahan iklim secara lebih akurat. Profesor ilmu iklim dari Imperial College London, Friederike Otto, menyatakan bahwa hingga kini belum ada model iklim yang dikembangkan di Afrika, sehingga analisis cuaca di benua tersebut masih sangat bergantung pada model dari Amerika Serikat, Eropa, dan Asia, yang memiliki keterbatasan dalam menggambarkan kondisi lokal Afrika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan






