Militer AS Hantam Kapal Diduga Penyelundup Narkoba di Pasifik Timur, 2 Tewas

AKURAT.CO Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan kinetik mematikan terhadap sebuah kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkotika di Samudra Pasifik bagian timur, menewaskan dua orang dan menyisakan satu korban selamat, kata U.S. Southern Command (Southcom) dalam pernyataan resmi, Jumat (23/1).
Serangan itu dilakukan oleh Joint Task Force Southern Spear atas arahan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dengan dalih menindak kapal yang disebut dioperasikan oleh kelompok teroris yang ditetapkan dan sedang melakukan operasi penyelundupan narkoba di rute perdagangan yang dikenal di kawasan Pasifik.
“Intelijen memastikan kapal tersebut tengah melintasi jalur rute penyelundupan narkotika yang sudah dikenal di Pasifik Timur dan benar-benar terlibat dalam operasi tersebut,” bunyi pernyataan Southcom yang dipublikasikan melalui platform X.
Satu Korban Selamat Diselamatkan
Southcom menyatakan dari tiga orang yang berada di kapal, dua tewas dalam serangan tersebut dan satu berhasil selamat. Setelah serangan, Southcom segera memberi tahu Angkatan Laut Penjaga Pantai AS (U.S. Coast Guard) untuk mengaktifkan operasi pencarian dan penyelamatan terhadap korban yang selamat.
Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai kewarganegaraan atau identitas korban yang dikaitkan dengan kapal tersebut, maupun bukti langsung terkait keterlibatan narkotika. Pemerintah AS juga tidak merinci otoritas internasional atau proses hukum yang digunakan dalam operasi tersebut.
Bagian dari Kampanye Militer yang Lebih Luas
Serangan ini merupakan bagian dari Operation Southern Spear, kampanye militer yang telah berlangsung sejak September tahun lalu untuk menargetkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di perairan internasional sekitar Karibia dan Pasifik. Kampanye itu mencakup puluhan serangan yang sebelumnya dilaporkan menewaskan lebih dari 100 orang sejak awal operasi.
Kontroversi dan Sorotan Internasional
Langkah militer AS tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak, termasuk kelompok hak asasi manusia dan beberapa pengamat internasional, yang mempertanyakan dasar hukum dan bukti yang mendasari serangan terhadap kapal yang belum melalui proses peradilan. Bahkan, beberapa serangan sebelumnya dilaporkan menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan pelaut sipil dan kejelasan aturan penggunaan kekuatan di perairan internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 3Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 4Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 7Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 8Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 9KPK Geledah Kantor Bela Parahiyangan Investindo, Terkait Suap Kementerian ATR/BPN
- 10Kejagung Limpahkan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana ke JPU, Dakwaan Disiapkan








