Pakar Politik: Trump Harus Hapus Filibuster untuk Akhiri Penutupan Pemerintahan

AKURAT.CO Pemerintahan Presiden Donald Trump masih lumpuh akibat kebuntuan politik dengan Partai Demokrat.
Menurut pakar politik Amerika, Jerry Massie, kunci untuk mengakhiri kebuntuan ini adalah menghapus mekanisme filibuster di Senat.
“Selama ini, Partai Demokrat menjadi faktor utama penutupan pemerintahan federal. Dalam sejarah, sudah 15 kali Partai Demokrat menutup pemerintahan ketika presiden berasal dari Partai Republik,” ujar Jerry, Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), alumnus American Global University (AGU), Jumat (31/10/2025).
Penutupan pemerintahan (government shutdown) di era Trump kini telah berlangsung lebih dari 30 hari, menjadikannya salah satu yang terpanjang dalam sejarah AS.
Meski tiga senator Demokrat telah bergabung dengan Republik, Jerry menjelaskan bahwa Senat masih kekurangan empat suara untuk mencapai 60 kursi, ambang batas untuk menghentikan filibuster dan membuka kembali pemerintahan.
“Deadlock ini menekan ekonomi AS hingga merugikan antara USD7–14 miliar, memangkas 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal terakhir akibat berkurangnya belanja pemerintah,” paparnya.
Jerry menilai, sudah saatnya Trump mengambil langkah tegas.
Baca Juga: Prabowo Dorong Kerja Sama Ekonomi yang Adil dan Inklusif di Kawasan Asia Pasifik
“Trump harus menyingkirkan ide gila Demokrat dan mengakhiri filibuster. Dengan mayoritas Republik di Senat (53 kursi) dan kekuatan signifikan di Kongres, peluang itu terbuka lebar,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejak dimulainya shutdown pada 1 Oktober, lebih dari 4.100 pegawai federal telah dirumahkan, dan jumlah itu bisa meningkat.
“Penutupan ini bukan sekadar soal politik—ini memukul roda pemerintahan. Sejak 1981, AS sudah 15 kali menutup pemerintahannya, tapi tak ada presiden yang menggunakannya sebagai alasan pemutusan besar-besaran,” tambahnya.
Sementara itu, Partai Demokrat bersikeras agar setiap rancangan undang-undang pendanaan jangka pendek mencakup perpanjangan kredit pajak di bawah Undang-Undang Perawatan Terjangkau (ACA) yang akan segera berakhir.
Namun Jerry optimistis, Republik akan mengakhiri filibuster demi menormalisasi kembali jalannya pemerintahan.
“Kebijakan ini bukan hanya soal membuka kantor pemerintah, tapi soal mengembalikan stabilitas dan kepercayaan terhadap kepemimpinan nasional,” pungkasnya.
Baca Juga: Penjualan PANI Melonjak 183 Persen, Sinyal Kuat Kebangkitan Pasar Properti Nasional
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 4Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 7Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang








