Trump: Kedelai Jadi Isu Utama dalam Pertemuan dengan Xi Jinping

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kedelai akan menjadi salah satu topik utama dalam pertemuannya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping bulan depan.
“Para petani kedelai kita dirugikan karena Tiongkok, hanya demi alasan ‘bernegosiasi’, tidak membeli,” tulis Trump di platform Truth Social, Rabu (1/10).
Dampak Perang Dagang pada Petani AS
Sejak perang dagang AS–Tiongkok berlangsung, importir Tiongkok menghentikan pembelian kedelai dari panen musim gugur AS, yang biasanya menjadi periode penjualan utama bagi para petani. Situasi ini menimbulkan kerugian miliaran dolar karena Tiongkok, sebagai importir kedelai terbesar dunia, justru beralih ke pasokan dari Amerika Selatan.
Langkah tersebut membuat harga kedelai AS tertekan dan menambah beban bagi petani.
Tekanan Politik dan Negosiasi
Senator John Hoeven dari North Dakota mengatakan, hingga kini belum ada kepastian kapan Tiongkok akan kembali membeli kedelai AS. Dalam pengarahan dengan Duta Besar AS untuk Tiongkok, David Perdue, ia mengaku tidak mendapat informasi bahwa penjualan akan segera terjadi.
“Diskusinya lebih pada strategi menekan Tiongkok agar membeli, sambil pemerintah tetap mendukung petani kita,” ujar Hoeven.
Trump sendiri berjanji akan terus menggunakan pendapatan tarif dari Tiongkok untuk membantu petani AS.
Pertemuan Trump–Xi
Trump sebelumnya menyampaikan bahwa ia dan Xi telah sepakat untuk bertemu langsung di Korea Selatan pada akhir Oktober, di sela-sela forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju.
Selain itu, Trump juga merencanakan kunjungan ke Tiongkok awal tahun depan, sementara Xi Jinping dijadwalkan mengunjungi AS pada kesempatan berikutnya.
Ekspektasi Pasar
Pertemuan kedua pemimpin diharapkan dapat membuka jalan bagi Tiongkok untuk meningkatkan impor produk pertanian AS, termasuk kedelai. Meski begitu, skeptisisme masih ada mengingat Tiongkok sebelumnya gagal memenuhi janji dalam perjanjian dagang 2020 yang ditandatangani Trump.
Kala itu, Beijing berkomitmen membeli produk pertanian AS senilai puluhan miliar dolar, namun target tidak pernah tercapai karena Tiongkok mulai mendiversifikasi sumber pangannya.
Respons Tiongkok
Menanggapi isu ini, juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington, Liu Pengyu, menyatakan bahwa kerja sama ekonomi antara kedua negara harus berlandaskan prinsip saling menguntungkan.
“Pada prinsipnya, kami berharap AS bekerja sama dengan Tiongkok untuk mengimplementasikan kesepahaman yang sudah dicapai para pemimpin dalam pembicaraan telepon mereka,” kata Liu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








