Pengeras Suara Propaganda Korea Utara Dicopot, Warga Perbatasan Bersyukur

AKURAT.CO Warga Korea Utara yang tinggal di dekat perbatasan dengan Korea Selatan kini bisa bernapas lega. Setelah bertahun-tahun hidup di bawah bisingnya perang psikologis, rezim Korea Utara akhirnya memerintahkan pencopotan pengeras suara propaganda yang selama ini ditujukan ke Selatan.
Seorang sumber dari Provinsi Hwanghae Utara mengungkapkan kepada Daily NK bahwa Korps II, yang ditempatkan di garis depan barat, menerima perintah langsung dari Komando Tertinggi pada 8 Agustus lalu. Malam itu juga, satu batalion zeni dikerahkan untuk membongkar pengeras suara yang selama ini menjadi simbol tekanan psikologis lintas perbatasan.
Perintah ini muncul tak lama setelah Korea Selatan, atas instruksi Presiden Lee Jae-myung, mencopot 20 instalasi pengeras suara propagandanya pada 5 Agustus.
Meski disebut sebagai bentuk “tindakan setara” terhadap langkah Seoul, Komando Tertinggi Korea Utara juga menyebut pencopotan ini sebagai bagian dari “penyesuaian bertahap perang psikologis melawan Korea Selatan,” mengisyaratkan masih adanya kemungkinan perubahan strategi ke depan.
Warga Garis Depan Jadi Korban Terbesar Perang Suara
Bagi warga sipil yang hidup hanya beberapa kilometer dari garis demarkasi militer, pencopotan pengeras suara ini terasa seperti “hari pembebasan.” Selama bertahun-tahun, mereka harus menanggung siaran propaganda memekakkan telinga, ditambah suara-suara aneh seperti logam berderak, lolongan menyeramkan, hingga suara burung hantu.
“Orang-orang sangat terharu karena akhirnya terbebas dari rasa sakit yang sudah lama mereka alami,” kata sumber lokal.
Prajurit di garis depan pun merasakan dampak yang sama. Banyak yang mengeluhkan sakit kepala kronis dan gangguan sensitivitas terhadap suara karena terus-menerus terpapar kebisingan.
Meskipun tidak bisa merayakan secara terbuka karena pengawasan ketat, warga perbatasan dikabarkan saling berpelukan, menari diam-diam, hingga menggelar minum-minum kecil bersama keluarga. “Semua orang lega, bahkan ada yang bercanda bahwa pedagang pasar akan rugi karena tidak bisa lagi menjual penyumbat telinga karet,” ujar sumber tersebut.
Penyumbat telinga memang sempat menjadi barang vital di wilayah ini. Permintaan yang tinggi membuat banyak warga mencari nafkah dengan merakit dan menjualnya. Kini, kebutuhan itu pun mereda.
Beberapa warga bahkan menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah Korea Selatan dan Presiden Lee Jae-myung. Mereka menilai langkah preemptif Seoul dalam mencopot pengeras suara propagandanya lebih dulu telah menyelamatkan ribuan warga dari ancaman tuli atau gangguan jiwa.
“Semua orang sepakat bahwa Lee-lah yang membawa hari pembebasan yang mulia ini ke telinga mereka,” ungkap sumber tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu








