Setelah Pertemuan Terpisah, Trump Dorong Pertemuan Putin–Zelensky

AKURAT.CO Upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina kembali menemukan babak penting. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa ia telah memulai pengaturan pertemuan tatap muka antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk membuka jalur diplomasi yang bisa mengakhiri konflik yang sudah berlangsung hampir empat tahun.
Trump menegaskan bahwa Washington tetap berkomitmen pada jaminan keamanan Eropa. Menurutnya, keamanan benua biru menjadi kunci agar Moskow tidak kembali melancarkan agresi setelah perang berakhir. “Setelah pertemuan Putin dan Zelensky, akan ada pertemuan trilateral bersama saya. Ini langkah awal menuju perdamaian,” ujar Trump melalui media sosial.
Optimisme Hati-Hati dari Eropa
Pertemuan di Gedung Putih antara Trump, Zelensky, dan sejumlah pemimpin Eropa, Senin (18/8) menghasilkan sikap optimis meski penuh kehati-hatian. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut komitmen AS sebagai “hasil terpenting” dari pembahasan, khususnya dalam penyusunan jaminan keamanan pasca-perang. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menekankan pentingnya gencatan senjata segera sebelum pembicaraan damai final dilakukan.
Namun, kekhawatiran tetap ada. Banyak pihak di Eropa menilai Trump berpotensi menekan Ukraina untuk memberikan konsesi teritorial kepada Rusia, sebuah langkah yang bisa memperkuat posisi Putin di masa depan.
Zelensky: Pertemuan Tanpa Syarat
Presiden Zelenskyy, yang sejak awal konsisten meminta dukungan penuh Barat, menegaskan bahwa pertemuan dengan Putin harus dilakukan tanpa syarat. “Kalau kita mulai menetapkan prasyarat, Rusia akan melakukan hal yang sama. Karena itu, lebih baik bertemu dulu, lalu kita cari solusi bersama,” kata Zelensky.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat harus berperan nyata dalam memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina. Menurutnya, keterlibatan Washington bukan sekadar simbolis, tetapi mutlak diperlukan agar kesepakatan perdamaian bisa bertahan lama.
Di sisi lain, Kremlin masih memberi sinyal yang ambigu. Yuri Ushakov, penasihat urusan luar negeri Putin, menyebut bahwa Moskow dan Washington memang sepakat untuk melanjutkan perundingan, bahkan mempertimbangkan level negosiasi yang lebih tinggi. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menolak ide pasukan penjaga perdamaian NATO di Ukraina, menyebutnya bisa memicu eskalasi lebih lanjut.
Momentum Diplomasi atau Tekanan Politik?
Langkah Trump kali ini kontras dengan pertemuan sebelumnya pada Februari, ketika ia secara tiba-tiba menghentikan pembicaraan dengan delegasi Ukraina. Kini, ia justru berusaha memosisikan diri sebagai mediator utama. Bagi sebagian pemimpin Eropa, upaya ini bisa menjadi terobosan. Namun bagi pengamat kritis, ada risiko Trump hanya mengakomodasi kepentingan Putin.
Pertemuan trilateral yang direncanakan bisa menjadi titik balik: apakah benar mengarah ke perdamaian Rusia–Ukraina yang langgeng, atau sekadar jeda sementara sebelum konflik kembali meletus.
Zelensky menekankan bahwa Ukraina tidak ingin mengulang sejarah 2014, ketika Rusia merebut Krimea dan sebagian Donbas, lalu menggunakan wilayah itu sebagai batu loncatan untuk invasi besar 2022. “Perdamaian harus langgeng, bukan sekadar berhenti sejenak sebelum serangan berikutnya,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









