Akurat Logo

Dukung Gerakan Pilah Sampah, Fraksi PDIP DPRD Jakarta Beri Toren dan Mesin Pencacah ke RW 014 Pondok Kelapa

Okto Rizki Alpino | 29 September 2026, 18:07 WIB
Dukung Gerakan Pilah Sampah, Fraksi PDIP DPRD Jakarta Beri Toren dan Mesin Pencacah ke RW 014 Pondok Kelapa
Jajaran Fraksi PDIP DPRD Jakarta bersama DPRD PDIP dorong pilah sampah dari Rumah dan menjadikan Pondok Kelapa sebagai percontohan Zero Waste. - Akurat.co/Okto Rizki Alpino

AKURAT.CO Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jakarta mendorong gerakan memilah sampah dari sumbernya. Di mana, RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, menjadi salah satu lingkungan yang didorong sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jakarta, Pantas Nainggolan, mengatakan perubahan perilaku menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik. Kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga dapat menjadi awal terbentuknya budaya hidup bersih dan sehat.

"Mudah-mudahan melalui gelora semangat yang seperti ini, nanti pada suatu ketika kita akan bisa mengubah budaya, dari budaya sembarangan membuang sampah menjadi budaya bersih, budaya sehat, dan budaya cinta lingkungan yang asli," kata Pantas, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: Ubah Kebiasaan Masyarakat, PDIP Dorong Gerakan Pilah Sampah dari Rumah

RW 014 Pondok Kelapa sendiri telah menjalankan pemilahan sampah, sebelum Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

Ketua RW 014 Pondok Kelapa, Teuku Husaini, mengatakan warga mulai memilah sampah karena merasakan langsung manfaatnya. Sampah yang sebelumnya tercampur dan menumpuk kini dipisahkan berdasarkan jenisnya.

"Kami di RW 14 Kelurahan Pondok Kelapa, sebelum ada Ingub kita sudah mencoba memilah sampah, karena dengan memilah itu risiko baunya berkurang jauh," kata Teuku.

Pemilahan juga membuat sampah yang masih memiliki nilai ekonomi tidak langsung berakhir di tempat pembuangan. Botol, kardus, dan kertas dikumpulkan untuk dijual kembali.

Sementara sampah organik dari dapur dimanfaatkan untuk mengisi lubang biopori. Cara tersebut membuat sampah organik tidak seluruhnya dibuang ke depo atau lahan sekitar.

Baca Juga: Pramono Minta Warga Tak Buang Sampah ke Kali Usai Anak Kali Krukut Ditata

"Kalau sampah organik dapur, itu memang dulu enggak ditaruh di sini, kita buang ke lahan sekitar atau depo. Tapi ada Ingub lebih teratur. Sekarang kita ada biopori, kita masukkan ke lubang biopori," tuturnya.

Praktik tersebut kemudian mendapat dukungan Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jakarta melalui bantuan sarana pengelolaan lingkungan. Wakil Ketua DPRD Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Ima Mahdiah, mengatakan pihaknya memberikan 12 toren dan dua mesin pencacah sampah sesuai usulan RW 014.

"Kami Fraksi PDI Perjuangan juga melalui PAM memberikan sumbangan berupa toren sebanyak 12 dan juga dua mesin pencacah yang di mana ini yang diusulkan oleh RW setempat yang melaksanakan biopori sejauh ini," kata Ima.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.