Evaluasi Pidato Rais Aam PBNU, Warga Nahdliyin Soroti Akurasi Kutipan dan Kaidah Bahasa Arab

AKURAT.CO Evaluasi terhadap jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mengemuka dari kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin).
Tokoh kiai kampung sekaligus kader NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, memberi sejumlah catatan kritis terhadap pidato Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang disampaikan dalam agenda Munas-Konbes NU di Bangkalan beberapa waktu lalu.
Menurut Khalilur, evaluasi tersebut mencakup akurasi kutipan kitab hingga ketepatan penggunaan kaidah bahasa Arab.
"Tulisan dan telaah ini merupakan bagian dari rekam jejak sejarah. Agar warga Nahdliyin dapat menilai secara jernih kualitas figur kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa PBNU ke depan," ujar Khalilur, melalui keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).
Dia menjelaskan bahwa dalam tradisi intelektual pesantren, ketepatan membaca teks Arab berdasarkan kaidah nahwu dan sharaf menjadi tolok ukur penting dalam penyampaian materi keagamaan.
Berdasarkan hasil telaah terhadap tayangan pidato, Khalilur menilai terdapat kekeliruan dalam penyebutan sumber rujukan hadis mengenai kemakmuran sebuah negeri.
"Teks tersebut bersumber dari Kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali, namun sumber rujukan aslinya tidak disebutkan sepanjang pidato berlangsung," katanya.
Selain itu, dia menyoroti kesalahan pelafalan tahun Hijriah pada bagian awal pidato.
Menurutnya, saat hendak menyebut tahun 1448 Hijriah, struktur kalimat Arab yang diucapkan justru bermakna 14.048 Hijriah.
"Berdasarkan kaidah ilmu Adad dalam Alfiyah Ibn Malik, penyebutan yang tepat semestinya tsamaniyah wa arba'in wa arba'imi'ah wa alf," ujarnya.
Baca Juga: Warga Nahdliyin Soroti Arah Kepemimpinan PBNU, Dorong Figur Pemersatu Jelang Muktamar ke-35
Khalilur juga mengidentifikasi enam kekeliruan teknis lain. Yang terdiri atas empat kesalahan penempatan harakat dan dua kesalahan pelafalan kata yang dinilai dapat mengubah makna teks asli.
Menurutnya, sejumlah kesalahan tersebut menjadi catatan penting. Mengingat posisi Rais Aam merupakan otoritas tertinggi di Dewan Syuriah PBNU yang merepresentasikan kealiman serta penjagaan tradisi keilmuan Islam.
"Rentetan kekeliruan teknis kebahasaan tersebut menjadi indikator penting mengenai perlunya ketelitian tinggi bagi seorang pemegang otoritas tertinggi di Dewan Syuriah PBNU," ujar Khalilur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo



