Pimpinan MPR: Banjir Rob di Jakarta Utara Bukti Nyata Krisis Iklim

AKURAT.CO Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menilai banjir rob yang menerjang Jakarta Utara adalah bukti nyata krisis iklim yang semakin parah dan berdampak merugikan masyarakat.
Menurutnya, penanganan banjir rob tidak bisa lagi hanya mengandalkan tanggul tapi lebih dari itu, yakni harus menggunakan manajemen bencana menghadapi krisis iklim.
"Krisis iklim harus dihadapi dengan manajemen krisis kebencanaan. Apa yang terjadi di Jakarta Utara adalah kombinasi dari kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim dan penurunan tanah yang signifikan karena eksploitasi air tanah yang berlebihan. Bencana ini akan berulang kalau penanganannya hanya sekedar solusi sementara," kata Edy kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (21/12/2024).
Baca Juga: Jakarta Utara Kembali Digenangi Banjir Rob Hari Ini, 5 RT Terdampak
Untuk itu, Anggota Komisi XII DPR RI ini meminta, pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mengaktifkan protokol mitigasi bencana dalam mengantisipasi banjir rob di Jakarta Utara ini.
Menurut Eddy, protokol mitigasi bencana penting karena alarm krisis iklim ini bukan hanya mengancam warga Jakarta Utara, tapi menjadi ancaman bagi warga yang tinggal di pesisir di seluruh Indonesia.
"Hari ini terjadi di Jakarta Utara tapi sebenarnya dampak krisis iklim ini mengancam masyarakat Indonesia yang tinggal di pesisir karena kenaikan permukaan air laut yang sewaktu-waktu bisa menerjang dengan banjir rob," ujarnya.
"Di saat yang bersamaan banjir rob di Jakarta Utara, saudara kita di pesisir Indramayu juga mengalami bencana banjir rob yang berdampak pada ribuan warga disana. Jadi, banjir rob ini sudah menjadi dampak krisis iklim yang harus diatasi dengan manajemen krisis kebencanaan," lanjutnya.
Dia berharap, penanganan banjir rob menjadi perhatian pemerintah pusat di kementerian terkait dan tidak hanya diserahkan pada pemerintah daerah saja.
"Banjir Rob di Jakarta Utara dan daerah pesisir lainnya harus menjadi call to action bagi kementerian terkait dan pemerintah daerah bahwa penanganannya harus menggunakan manajemen krisis bencana karena dampaknya yang berpotensi terus meluas," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








