Evaluasi Asian Games 2026, Raja Sapta Oktohari Ingin Raihan Emas Bertambah

AKURAT.CO, Ketua Umum Komite Olimpiade (NOC) Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa keberhasilan Tim Indonesia meraih lima medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 harus menjadi titik balik untuk membongkar dan merombak total sistem pembinaan olahraga nasional.
Tim Indonesia sukses menutup pesta olahraga terbesar se-Asia tersebut dengan mengemas total 39 medali (lima emas, sebelas perak, dan 23 perunggu), melewati target awal Pemerintah yang mematok empat keping emas.
Kendati demikian, sosok yang akrab disapa Okto tersebut menyoroti fakta bahwa seluruh kepingan emas Merah Putih hanya bersumber dari empat cabang olahraga (cabor) saja, yakni bulutangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
Baca Juga: Panen 39 Medali dan Ukir 9 Rekor Dunia-Asia, Tim Indonesia Lampaui Target di Asian Games 2026
Menurut Okto, momentum ini tidak boleh berhenti pada euforia perayaan target belaka, melainkan harus direspons dengan keberanian membedah formula keberhasilan cabor-cabor unggulan tersebut untuk diterapkan secara sistematis ke cabor lainnya.
“Lima emas tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan apakah target tercapai. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana lima emas ini bisa menjadi sepuluh dan bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite," kata Okto di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Dorong Cross-Sport Talent dan Penggunaan Sport Science
Okto menilai, dengan jumlah populasi yang besar, Indonesia sejatinya tidak pernah kekurangan bibit atlet berbakat. Namun, kelemahan mendasar terletak pada sistem talent scouting dan tata kelola pembinaan yang masih kerap terjebak ego sektoral.
Ia mendorong penerapan cross-sport talent berbasis data dan sport science. Jika pemetaan fisik seorang atlet lebih potensial di cabang lain, federasi harus berani memindahkan atlet tersebut demi kepentingan prestasi nasional.
"Talenta itu bukan milik satu cabang olahraga, itu talenta Indonesia. Kalau setelah diuji dengan pendekatan sport science seorang atlet ternyata lebih cocok di cabang lain, kenapa harus takut memindahkannya? Kepentingan nasional harus lebih besar daripada ego sektoral," ujar Okto.
Ia menambahkan, membangun atlet kelas dunia membutuhkan ekosistem yang terintegrasi penuh, mulai dari pelatih berkualitas, nutrisi, fasilitas modern, kedokteran olahraga, hingga dukungan anggaran yang berkesinambungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 6Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 7Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara
- 10Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver





