Akurat

Iman kepada Kitab Allah Secara Ijmali: Pengertian, Dalil, dan Makna Lengkap

Naufal Lanten | 22 September 2025, 12:45 WIB
Iman kepada Kitab Allah Secara Ijmali: Pengertian, Dalil, dan Makna Lengkap

AKURAT.CO Apakah yang dimaksud dengan iman kepada kitab Allah secara ijmali? Iman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman yang menjadi fondasi akidah setiap Muslim. Bentuk keimanan ini terbagi menjadi dua, yaitu secara ijmali (umum) dan tafsili (rinci). Di antara keduanya, iman secara ijmali sering kali menjadi pintu awal bagi seorang Muslim untuk memperdalam pemahaman tentang wahyu Allah. Lalu mengapa ia begitu penting dalam kehidupan beragama? Berikut penjelasan lengkapnya.

Pengertian Iman kepada Kitab Allah

Secara umum, iman berarti keyakinan yang tertanam di hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan. Dalam konteks kitab Allah, iman berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT menurunkan kitab-kitab suci kepada para rasul sebagai pedoman hidup umat manusia. Kitab-kitab ini berisi petunjuk, hukum, dan peringatan agar manusia dapat menjalani kehidupan sesuai dengan perintah dan larangan-Nya.

Dalam proses keimanan, ada dua tingkatan keyakinan yang diajarkan para ulama. Pertama, iman secara ijmali, yakni keyakinan yang bersifat global dan tidak memerlukan rincian mendalam. Kedua, iman secara tafsili, yaitu keyakinan yang disertai dengan pengetahuan rinci tentang kitab-kitab yang Allah sebutkan secara spesifik dalam Al-Qur’an dan hadis.

Makna Iman Secara Ijmali

Kata ijmali berasal dari bahasa Arab ijmal yang berarti “umum” atau “global”. Iman secara ijmali berarti meyakini secara garis besar bahwa Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya tanpa harus mengetahui seluruh nama kitab, rasul penerimanya, isi kitab, atau waktu turunnya.

Mengutip buku Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural karya Dr. Masturin, S.Ag., M.Ag. (2022), sikap Muslim terhadap kitab-kitab Allah sebelum Al-Qur’an hendaknya berupa iman secara ijmali, sedangkan terhadap Al-Qur’an wajib beriman secara tafsili. Artinya, seorang Muslim cukup meyakini bahwa kitab-kitab tersebut memang berasal dari Allah, meski tidak mengetahui seluruh rinciannya. Sementara untuk Al-Qur’an, keimanan harus mencakup keyakinan penuh terhadap detail seperti isi, hukum, dan keotentikannya.

Hubungan Ijmali dengan Tauhid dan Sifat Allah

Keimanan ijmali juga menjadi jalan bagi umat Islam untuk memperdalam tauhid, yakni pengesaan Allah. Allah SWT adalah Zat Maha Pencipta dan Mahakuasa atas seluruh alam semesta beserta isinya. Sebagai Muslim, kita wajib mengenal sifat-sifat-Nya yang meliputi sifat wajib, mustahil, dan jaiz—termasuk sifat maknawiyah yang bermakna “maha” atau “paling”.

Dengan iman secara ijmali, seorang Muslim mengakui bahwa Allah adalah perencana, pencipta, pengatur, pengelola, dan penguasa seluruh alam. Keyakinan ini mengokohkan pemahaman bahwa hanya Allah yang pantas disembah dan dimintai pertolongan. Maka, iman kepada kitab Allah secara ijmali bukan hanya tentang kitab-kitab itu sendiri, tetapi juga tentang mengakui kesempurnaan Allah sebagai sumber seluruh wahyu.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Kewajiban beriman kepada kitab-kitab Allah ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Salah satu ayat penting adalah firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 136:

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka…’”

Ayat ini menegaskan bahwa seorang Muslim harus beriman kepada seluruh wahyu yang diturunkan Allah, baik yang disebutkan secara jelas maupun yang tidak. Dalam hadis tentang rukun iman, Rasulullah SAW juga menyebutkan kewajiban beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan qadar baik serta buruk.

Perbedaan Iman Ijmali dan Tafsili

Untuk memahami posisi iman ijmali, penting membedakannya dengan iman tafsili:

  • Iman Ijmali adalah keyakinan global bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul, tanpa mengetahui seluruh detailnya.

  • Iman Tafsili adalah keyakinan rinci terhadap kitab-kitab yang disebutkan secara spesifik, seperti Al-Qur’an, Taurat, Injil, dan Zabur, beserta penerima dan sifatnya.

Seorang Muslim mungkin belum mengenal semua kitab yang pernah diturunkan, tetapi tetap diwajibkan untuk beriman secara ijmali. Namun, ketika ada penjelasan yang jelas dalam Al-Qur’an atau hadis, maka iman tafsili menjadi kewajiban.

Kewajiban Iman dan Kaitannya dengan Rukun Iman

Beriman kepada kitab Allah adalah bagian dari rukun iman yang wajib dipenuhi setiap Muslim. Hukum ini termasuk wajib ‘ain, yakni kewajiban individu yang harus dijalankan setiap orang yang sudah mukallaf—berakal dan baligh. Artinya, jika seseorang beriman kepada Allah, maka ia juga harus beriman kepada malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar Allah.

Iman ijmali menjadi langkah awal untuk mengokohkan keimanan secara menyeluruh. Meskipun pengetahuan tentang detail kitab mungkin terbatas, keyakinan umum bahwa kitab-kitab itu benar-benar wahyu Allah sudah mencukupi sebagai landasan keimanan.

Hikmah Iman Secara Ijmali

Iman ijmali memberikan banyak manfaat dalam kehidupan seorang Muslim. Pertama, mempermudah orang yang belum mempelajari detail kitab untuk tetap berada dalam koridor iman. Kedua, menjaga hati dari sikap meremehkan wahyu yang lain, karena semua kitab Allah memiliki tujuan sama, yaitu menuntun manusia kepada kebenaran. Ketiga, iman ijmali memotivasi umat Islam untuk terus belajar dan meningkatkan pemahaman hingga ke tahap tafsili.

Penutup

Iman kepada kitab Allah secara ijmali adalah meyakini bahwa Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya tanpa harus mengetahui secara rinci nama kitab, isi, maupun penerimanya. Keyakinan ini merupakan kewajiban setiap Muslim dan menjadi dasar untuk memperdalam keimanan kepada Allah, termasuk pengakuan atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

Meski cukup beriman secara global, seorang Muslim dianjurkan untuk melanjutkan pemahaman menuju iman tafsili, terutama terhadap Al-Qur’an sebagai kitab terakhir dan paling sempurna. Dengan begitu, keimanan tidak hanya berhenti pada keyakinan umum, tetapi juga diwujudkan dalam pemahaman dan pengamalan yang lebih mendalam.

Kalau ingin terus memperkaya wawasan keislaman, jangan ragu mempelajari Al-Qur’an dan kajian-kajian terpercaya agar iman semakin kokoh dan membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Kenapa Cicak Dianjurkan untuk Dibunuh dalam Islam? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Baca Juga: Cara Menghindari Hasad dan Dengki Menurut Islam agar Hati Lebih Tenang

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan iman kepada kitab Allah secara ijmali?
Iman kepada kitab Allah secara ijmali adalah keyakinan bahwa Allah Swt. telah menurunkan kitab-kitab suci kepada para rasul-Nya sebagai petunjuk hidup manusia, tanpa harus mengetahui secara rinci nama kitab-kitab tersebut dan kepada siapa kitab itu diturunkan. Yang terpenting adalah meyakini keberadaan kitab-kitab itu sebagai wahyu Allah.


2. Apa perbedaan iman secara ijmali dan tafsili?

  • Iman secara ijmali: Beriman secara garis besar, misalnya percaya bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya tanpa mengetahui detailnya.

  • Iman secara tafsili: Beriman secara rinci, misalnya mengetahui nama-nama kitab Allah (Al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur, dan Suhuf), isinya, dan nabi penerimanya.


3. Mengapa umat Muslim wajib beriman kepada kitab-kitab Allah?
Karena beriman kepada kitab-kitab Allah adalah salah satu dari rukun iman. Tanpa keimanan ini, iman seorang Muslim dianggap belum sempurna. Kitab-kitab Allah berfungsi sebagai pedoman hidup, sumber hukum, dan petunjuk kebenaran yang membawa manusia ke jalan yang diridai-Nya.


4. Apa saja kitab Allah yang wajib diketahui secara tafsili?
Kitab-kitab Allah yang disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an ada empat:

  1. Al-Qur’an (diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.)

  2. Injil (diturunkan kepada Nabi Isa a.s.)

  3. Taurat (diturunkan kepada Nabi Musa a.s.)

  4. Zabur (diturunkan kepada Nabi Daud a.s.)
    Selain itu, ada suhuf yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Musa a.s. dalam bentuk lembaran-lembaran.


5. Bagaimana cara mengamalkan iman kepada kitab Allah secara ijmali dalam kehidupan sehari-hari?

  • Meyakini bahwa semua kitab Allah adalah wahyu dan pedoman kebenaran.

  • Menghormati dan tidak merendahkan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an.

  • Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam beribadah, bermasyarakat, dan berakhlak.

  • Memahami bahwa isi kitab-kitab sebelumnya telah disempurnakan oleh Al-Qur’an.


6. Mengapa Al-Qur’an menjadi pedoman utama bagi umat Islam?
Al-Qur’an adalah kitab terakhir dan penyempurna seluruh kitab sebelumnya. Keasliannya terjaga oleh Allah Swt. hingga hari kiamat (QS. Al-Hijr: 9), dan isinya berlaku untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman.


7. Apa hikmah beriman kepada kitab Allah secara ijmali?

  • Menumbuhkan rasa syukur atas petunjuk Allah.

  • Memperkuat keimanan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

  • Menjadikan manusia lebih taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

  • Meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengikuti petunjuk yang benar dalam hidup.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.