Lifestyle

Yuk Pahami Dampak Penggunaan Dot untuk Si Kecil

Dot memiliki sejumlah dampak buruk yang tidak boleh diabaikan.


Yuk Pahami Dampak Penggunaan Dot untuk Si Kecil
Ilustrasi bayi minum pakai dot (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Saat Moms sibuk bekerja atau sedang tidak bersama Si Kecil, dot adalah bantuan terbaik untuk memberikan ASI perah kepada Si Kecil.

Meskipun sangat membantu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dot memiliki sejumlah dampak buruk yang tidak boleh diabaikan.

Berikut AKURAT.CO uraikan dampak negatif dot atau empeng untuk Si Kecil, dirangkum dari beberapa sumber pada Jumat (17/9/2021):

Bingung puting

Karakter puting susu dengan dot cenderung berbeda, sehingga cara kerjanya pun berbeda. Saat menggunakan dot, bayi bisa mendapatkan susu tanpa harus mengisap atau menyedot.

Sementara, payudara tidak akan mengeluarkan ASI ketika tidak ada rangsangan dari mulut bayi yang berupa isapan.

Kondisi ini akan berisiko membuat Si Kecil menolak menyusu langsung dari payudara.

"Bentuk karet dot ini dibuat menyerupai puting, yang akan membuat anak lebih terbiasa dan suka minum dari dot dibandingkan puting payudara ibu," jelas Inna Banani dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Terlambat bicara

Saat menyusu langsung pada payudara, otot rahang bayi akan akan berkontraksi dan selalu bergerak aktif. Ini akan memengaruhi kemampuan otot motorik di rahangnya sehingga melatih kemampuan berbicaranya.

Disisi lain, pada saat minum susu dari botol dot, bayi tidak perlu menggerakkan rahangnya karena susu keluar dengan mudah. Ini akan membuat otot rahangnya sedikit kaku dan memperlambat kemampuan bicara.

Menganggu pertumbuhan gigi

Menyusu ternyata juga akan memengaruhi pertumbuhan gigi anak. Dot akan membuat gigi tertahan dan menghambat pertumbuhannya.

"Penggunaan dot dalam jangka panjang bahkan bisa membuat struktur gigi bayi menjadi tak normal karena harus menggigit dan menahan dot agar tak jatuh," ungkap Inna.

Meningkatkan risiko infeksi rongga mulut dan gigi bayi

Dot sangat berisiko terpapar kuman sehingga meningkatkan risiko infeksi pada rongga mulut dan gigi bayi. Oleh sebab itu, kamu wajib mencuci dotnya dengan benar. 

Selain itu, ngedot saat Si Kecil tidur bisa menyebabkan susu menempel atau menggenang di sekitar gigi dalam waktu yang cukup lama. Ini bisa membuat gigi rentan terhadap bakteri dan asam.

Perubahan bentuk rahang

Pertumbuhan gigi yang terganggu juga akan berisiko mempengaruhi kondisi gusi dan rahang.

 Kemungkinan bentuk rahang akan berbeda antara atas dan bawah (maloklusi). Selain itu, gigi menjadi tampak tidak beraturan. 

Infeksi Telinga-Hidung-Tenggorokan (THT)

Penggunaan dot membuat Si Kecil lebih rentan mengalami infeksi telinga. Tekanan yang terjadi pada saat Si Kecil mengisap akan membuat cairan di dalam telinganya menumpuk dan menimbulkan infeksi.

Ada pula kemungkinan susu akan mengalir dari mulut atau dot dan masuk ke telinganya. 

Lalu, apakah dot boleh digunakan?

Adapun American Academy of Pediatrics (aap.org) merekomendasikan untuk melepas dot di usia satu tahun, dan paling lambat 18 bulan.

Sementara dokter spesialis gigi anak dari Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI), Eriska Riyanti mengatakan, anak masih boleh menggunakan dot atau pengganti puting susu ibu hingga usia tidak lebih dari empat tahun.

"Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia menyarankan penggunaan dot tidak lebih dari maksimal usia anak 4 tahun. Pada saat itu, (kemampuan motorik halus) anak-anak sudah sempurna ditambah pola mengunyah (selain menelan, menghisap sejak lahir)," katanya.

"Selain itu, anak-anak juga sudah harus mulai belajar menggunakan otot lainnya seperti minum susu dengan gelas dan memegang gelas sendiri," sambungnya.

Setiap orang tua pasti memiliki pertimbangan sendiri untuk memberikan dot atau tidak.

Jika Moms masih bingung dan galau, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat informasi lebih detail terkait penggunaan dot.[]