Ekonomi

Bahan Pangan Masih Meroket, Mending Tanam Sendiri Lewat Teknik Hidroponik

Bagi penyuka tanaman dan dunia bercocok tanam, istilah hidroponik tentu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga.


Bahan Pangan Masih Meroket, Mending Tanam Sendiri Lewat Teknik Hidroponik
Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan merawat tanaman yang ditanam menggunakan teknik hidroponik di dalam container farming dan agro electrifying di Agro Edukasi Wisata Ragunan, Jalan Poncol, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (13/10/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Bagi penyuka tanaman dan dunia bercocok tanam, istilah hidroponik tentu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga. Hidroponik merupakan salah satu bentuk inovasi yang membuat aktivitas bercocok tanam menjadi lebih praktis dan simpel.

Hal ini dikarenakan teknik menanam tersebut bisa dilakukan di lahan yang tak terlalu luas serta fleksibel disesuaikan dengan kondisi lahannya. 

Kelebihan itulah yang menjadikan teknik bercocok tanam hidroponik mulai banyak dilirik oleh berbagai kalangan masyarakat dan dijadikan sebagai hobi di kala senggang.

baca juga:

Melalui metode hidroponik, siapa saja bisa melakukan aktivitas bercocok tanam dengan lebih mudah, efisien, dan efektif. Selain itu, hasil panen dari budidaya tanaman hidroponik juga diyakini jauh lebih menyehatkan dan bebas dari bahan kimia. 

Lalu, seperti apa sih metode bercocok tanam hidroponik ini dan bagaimana cara mempraktikkannya? Khusus buat kamu yang penasaran, berikut ulasan lengkapnya.

Apa Itu Tanaman Hidroponik?

Istilah hidroponik merupakan gabungan dari 2 kata dari Bahasa Latin, yaitu, hydro dan juga phonos. Hydro sendiri memiliki arti air, sedangkan phonos berarti bekerja atau kerja. Jika digabungkan menjadi “air yang bekerja”.

Sedangkan dalam ilmu bercocok tanam, istilah hidroponik memiliki arti sebagai aktivitas pertanian yang memanfaatkan air sebagai medium tanam utamanya dan menggantikan tanah. 

Alih-alih menggunakan tanah, hidroponik sering kali menggantinya dengan beberapa media tanam lain. Sebagai contoh, pasir kasar, sabut kelapa, maupun kerikil.