Lifestyle

Daripada Mudik dan Dipaksa Balik Kanan, Buat yang di Jatim Mending Wisata Religi ke Masjid Agung Tuban

Masjid Agung Tuban berada di pusat kota dan tak jauh dari makam Sunan Bonang


Daripada Mudik dan Dipaksa Balik Kanan, Buat yang di Jatim Mending Wisata Religi ke Masjid Agung Tuban
Masjid Agung Tuban (INSTAGRAM/pesona_masjid_nusantara)

AKURAT.CO, Tuban adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki peranan penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia. Tak heran bila Tuban dijuluki sebagai Kota Wali, mengingat banyaknya makam para wali di daerah ini.

Namun, sejarah Islam di Tuban tak hanya terlihat dari makam para wali saja, tapi juga kemegahan Masjid Agung Tuban. Menurut catatan sejarah, masjid ini didirikan pada masa Bupati ke-7 Tuban, Arya Teja atau Syeikh Abdurrohman pada 1461, yang juga menantu dari Bupati ke-6, Arya Dhikara.

Masjid Agung Tuban berada di pusat kota dan tak jauh dari makam Sunan Bonang, tepatnya di Jalan Bonang, Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Masjid Agung Tuban memiliki tiga lantai dengan enam buah menara yang berdiri lahan 5.246 m2, dimana 3.565 m2 adalah luas bangunannya.

Jika dilihat dari gaya arsitekturnya, Masjid Agung Tuban ini tidak terlihat seperti masjid pada umumnya yang menggunakan atap bersusun tiga. Ya, jika diperhatikan gaya arsitekturnya tampak terpengaruh corak Timur Tengah, India, dan Eropa. Meski begitu, pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu tetap menampilkan  ornamen Jawa klasik.

Tak hanya itu saja, keindahan masjid ini juga dari warna-warna yang melapisi setiap bagian masjid. Jika diperhatikan, warna biru, kuning dan putih sangat mencolok pada bagian kubah masjid. Sementara pada bagian dinding, Masjid  Agung Tuban menggunakan lebih banyak warna lagi, yaitu salem atau peach, hijau muda, hijau tua, biru muda, kuning dan cokelat.

Gaya arsitektur dan padupadan warnanya yang estetik membuat Masjid Agung Tuban ini terlihat bak istana dalam dongeng seribu satu malam apabila dilihat dari kejauhan. 

Secara garis besar, bentuk bangunan Masjid Agung Tuban terdiri atas dua bagian, yaitu serambi dan ruang salat utama. Pada bagian dalam, ada pola lengkungan yang digunakan untuk menghubungkan tiang penyangga. Diantara tiang-tiang itu, ada rak-rak buku yang digunakan sebagai rak Alquran.

Masjid Agung Tuban INSTAGRAM/mediainformasiorangtuban

Masjid Agung Tuban, yang dahulu bernama Masjid Jami, sempat mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama kali dilakukan tahun 1894 oleh bupati ke-35 Tuban yakni Raden Toemengoeng Koesoemodiko. Saat itu, Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus.

Masjid Agung Tuba INSTAGRAM/samdawus

Hal ini terbukti dari prasasti yang yang ada di salah satu tiang di depan masjid. 

“Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang pada hari Akad tanggal 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban. Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus.”

Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1985. Saat itu Masjid Agung Tuban ini mengalami perluasan. Lalu renovasi total dilakukan pada 2004 oleh Pemerintah Kabupaten Tuban.

Masjid Agung Tuban INSTAGRAM/atamaa_photoo
Masjid Agung Tuban INSTAGRAM/alivrahmatul

Setelah renovasi ini, Masjid Tuban pun memiliki tiga lantai, adanya penambahan bangunan sayap kiri dan kanan dengan mengadopsi arsitektur bangunan berbagai masjid terkenal di dunia. Tak hanya itu saja, ada pula enam menara baru yang luas keseluruhannya mencapai 3.565 meter persegi.

Selain digunakan sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Tuban juga telah menjadi ikon kabupaten Tuban sekaligus menjadi tempat wisata. Ya, bagi kamu yang ingin mencoba wisata religi, mungkin Tuban bisa masuk dalam list kamu. 

Masjid Agung Tuban INSTAGRAM/ridersantai_69

Apalagi sekitar sepuluh meter dari masjid, berdiri pula Museum Kembang Putih yang menyimpan berbagai benda bersejarah seperti kitab Al-Quran kuno yang terbuat dari kulit, keramik Cina, pusaka, sarkofagus, dan sebagainya.

Waktu paling tepat untuk mengunjungi Masjid Agung Tuban adalah pada malam hari. Sebab, permainan warna dan cahaya lampu akan membuatmu merasa benar-benar berada di negeri seribu satu malam.[]

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co