News

YLKI Sebut Harga Rapid Antigen Rp50 Ribu, Begini Respons Kemenkes

Kemenkes belum mengetahui bahwa harga tes rapid antigen hanya Rp50 ribu sebagaimana ungkapan YLKI.


YLKI Sebut Harga Rapid Antigen Rp50 Ribu, Begini Respons Kemenkes
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi (Dokumentasi BNPB)

AKURAT.CO, Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengaku belum mengetahui informasi harga pokok tes rapid antigen Rp50 ribu sebagaimana diungkap Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. 

"Aku ndak tahu bagaimana informasinya," kata Siti Nadia ketika dihubungi AKURAT.CO pada Senin (28/6/2021).

YLKI sebelumnya meminta harga pokok tes antigen ditinjau kembali oleh Kemenkes. 

Mengenai itu, Siti mengaku akan melakukan diskusi internal. Pasalnya, sebelum memutuskan harga pokok tes rapid antigen Rp250 ribu, Kemenkes sudan konsultasi ke lembaga lain. 

"Nanti kita diskusi internal ya terkait ini, mengingat kemarin ini juga sudah dikonsultasikan dengan berbagai pihak ya," imbuhnya.

Siti mengatakan pihaknya yang dimaksudnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pembentukan harga.

"Konsultasi pada waktu kita membuat surat edaran untuk harga tertingggi pemeriksaan swab dan Rapid dengan BPK, KPK, dalam pembentukan harga jadi kalau ada masukan dan info baru kita terbuka untuk menerima masukan ini," ujar dia.

Sebelumnya, YLKI mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatur ulang Harga Eceran Tertinggi (HET) tes rapid antigen di pasaran dalam negeri.

Saat ini, HET yang ditetapkan Kemenkes, yakni Rp 250 ribu. Padahal, kata dia, harga pokok tes rapid antigen jauh dibawahnya, yakni Rp50 ribu. 

"HET tes rapid antigen Rp250.000 ternyata terlalu mahal. Sebab, menurut informasi yang saya peroleh, harga pokoknya hanya Rp 50.000," katanya dalam keterangannya, Sabtu (26/6/2021). 

Selisih harga itu, kata dia, terlampau jauh. Di masa sulit seperti saat ini, selisih HET dengan harga pokoknya yang terlampau jauh menunjukan ada pihak yang mengeruk keuntungan di balik kesulitan masyarakat. Akibatnya, masyarakat enggan untuk rapid tes secara mandiri. 

"Mbok jangan terlalu banyak mengambil untung. Jangan terlalu komersialistik di tengah pandemi seperti ini, tidak etis," ujarnya. 

Dia mendesak Kemenkes untuk merevisi kebijakannya itu. Sehingga harga pasarannya menjadi lebih masuk akal. Dengan harga yang lebih terjangkau. 

"Saya minta Kemenkes mengevaluasi dan merevisi HET tes rapid antigen. Sehingga harganya lebih rasional dan terjangkau oleh konsumen. Apakah banyak cukong yang bermain sehingga HET rapid antigen sangat tinggi dan sangat mahal," katanya.[]