News

Xi Jinping Diklaim Idap Aneurisma Otak tapi Enggan Operasi, Dipaksa Mundur Akhir Tahun Ini?

Xi Jinping diduga dilarikan ke rumah sakit akhir tahun lalu setelah dokter melihat pembuluh darah menonjol di otaknya.


Xi Jinping Diklaim Idap Aneurisma Otak tapi Enggan Operasi, Dipaksa Mundur Akhir Tahun Ini?
Presiden Xi Jinping juga diisukan akan dipaksa mundur dari jabatannya karena salah urus lockdown Covid-19 dan kemerosotan ekonomi di China. (Associated Press)

AKURAT.CO Media sosial China tengah ramai membicarakan spekulasi bahwa Presiden China Xi Jinping menderita aneurisma otak. Namun, ia enggan menjalani operasi.

Dilansir dari Daily Mail, sejumlah blogger mengeklaim bahwa pria 68 tahun itu lebih memilih pengobatan tradisional, alih-alih operasi otak. Namun, unggahan ini telah dihapus oleh sensor negara. 

Pada awal pandemi, China berupaya mengekspor pilihan obat tradisional untuk pengobatan Covid-19. Xi menjadi salah satu pendukung utama kampanye ini.

baca juga:

Orang nomor satu di China tersebut diklaim sakit ketika lockdown Covid yang sangat ketat memporakporandakan ekonomi Negeri Tirai Bambu. Ia diduga dilarikan ke rumah sakit akhir tahun lalu setelah dokter melihat pembuluh darah menonjol di otaknya.

Kesehatan Xi selalu menjadi rahasia yang dijaga ketat. Saat berpidato di Shenzhen selama gelombang Covid pertama pada 2020, pengamat memperhatikan ucapannya lambat dan batuk-batuk. Saat mengunjungi Italia pada Maret 2019, Xi disebut-sebut terlihat pincang dan butuh bantuan saat akan duduk.

Tak hanya itu, santer beredar pula spekulasi bahwa Xi akan mundur dari posisinya, menyusul salah urus lockdown Covid-19 dan kemerosotan ekonomi di China. Dilansir dari ANI, desas-desus mencuat setelah rapat komite tetap politburo partai, yang merupakan kepemimpinan kolektif yang memerintah China. Setelah itu, viral video yang dibuat oleh seorang blogger yang berbasis di Kanada. Namun, pemerintah China telah menyensornya.

Menurut blogger tersebut, rapat besar partai bakal diselenggarakan pada akhir tahun ini. Pada saat itu, Xi akan dipaksa mundur dari Partai Komunis China. Perdana Menteri Li Keqiang pun akan mengambil alih sementara kekuasaan partai dan pemerintah.

Untuk mengekang penyebaran Covid-19, Xi memerintahkan untuk tegas melawan mereka yang mencoba mempertanyakan kebijakan nol Covid. Namun, lockdown yang meluas telah menghambat bisnis di seluruh negeri. Menurut seorang pejabat senior China, pandemi menjadi batu sandungan bagi pembangunan ekonomi dan sosial.

Pembatasan ketat Covid-19 juga telah menghentikan produksi industri, sehingga rantai pasokan terganggu untuk pertama kalinya. Aktivitas manufaktur terus menurun hingga mencapai level terendah sejak Februari 2020.

Seiring terjadinya lockdown di Shanghai, para analis dari berbagai bank investasi juga memangkas prediksi mereka atas tingkat pertumbuhan ekonomi negara itu. Pada bulan April, mata uang yuan turun lebih dari 4 persen, penurunan bulanan terbesar dalam 28 tahun.

Selain itu, pasar saham juga telah sangat terpengaruh, sehingga kemungkinan akan berdampak pada pemulihan global. Pasalnya, lockdown intensif akan berdampak pada penjualan perusahaan di China dan juga mempengaruhi rantai pasokan.

Semua alasan ini diklaim telah menyebabkan ketidakpuasan meluas di China. Rakyat China disebut-sebut telah kehilangan kepercayaan pada pemerintah Xi Jinping atas situasi yang sulit dan salah urus di bawah pemerintahannya.[]