Olahraga

WTA Bakal Hentikan Turnamen di China karena Kasus Peng Shuai

Peng Shuai sempat diketahui menghilang sebelum muncul dalam sebuah komunikasi melalui video bersama Presiden IOC, Thomas Bach.


WTA Bakal Hentikan Turnamen di China karena Kasus Peng Shuai
Petenis asal China, Peng Shuai, saat ini masih belum bisa berkomunikasi secara bebas dengan WTA. (TWITTER/WTA)

AKURAT.CO, Asosiasi Tenis Putri Internasional (WTA) akhirnya mengambil sikap terhadap situasi petenis terkemuka asal China, Peng Shuai. WTA memutuskan akan menunda seluruh turnamen di bawah naungan mereka yang dijadwalkan dihelat di daratan China.

“Dengan dukungan penuh Dewan Direktur WTA, saya mengumumkan penundaan segera seluruh turnamen di China, termasuk (di) Hong Kong,” kata Pemimpin WTA, Steve Simon, sebagaimana dipetik dari The Guardian.

Simon menganggap Peng Shuai tidak bisa bicara bebas sejak sang atlet mempublikasikan pelecehan seksual yang dilakukan mantan Wakil Presiden China, Zhi Gaongli, awal November lalu.

Aksi tersebut membuat Peng Shuai sempat diketahui menghilang sebelum muncul dalam sebuah komunikasi melalui video bersama Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, beberapa pekan lalu.

“Dalam kesadaran yang benar, saya tidak melihat bagaimana saya bisa meminta atlet kami untuk bertanding di sana (China) ketika Peng Shuai tidak diizinkan untuk berkomunikasi secara bebas dan sepertinya ditekan untuk membantah tuduhan serangan seksual yang dialaminya,” kata Simon.

“Mengingat situasi negara (China) saat ini, saya juga benar-benar mengkhawatirkan risiko yang seluruh pemain dan staf bisa hadapi jika kami menggelar perhelatan di China pada 2022.

Sikap WTA juga menandai perubahan cara pandang tentang menyikapi hubungan bisnis dengan China ketika berhubungan dengan pendirian politik negara tersebut yang cenderung tak mau berkompromi.

Beberapa cabang olahraga cenderung enggan turun dalam urusan non-olahraga karena khawatir bakal kehilangan potensi pasar terbesar di negara berhaluan komunis tersebut.

“Saya menghargai Steve Simon dan pemimpin WTA karena mengambil pendirian yang kuat dalam membela hak asasi manusia di China dan di seluruh dunia,”kata legenda tenis AS, Billie Jean King.

“WTA ada di posisi sejarah yang benar dalam hal mendukung para pemain kami. Ini adalah satu alasan berbeda mengapa tenis putri adalah peimpin dalam olahraga putri.”

Legenda tenis putri asal AS lainnya, Martina Navratilova, mendukung sikap WTA sekaligus mengkritik IOC melalui akun Twitternya. “Sekarang, mau bilang apa IOC?!? IOC, sejauh ini saya jarang bisa mendengar Anda,” cuit Navratilova.[]